Wednesday, March 23, 2011

Kembang Desa jadi Model

0 comments

KisahMesum.Com : Kisah ini benar adanya, hanya saja untuk menjaga privacy dengan model-model yang pernah menjadi ‘korban’ petualanganku, maka dengan menyesal namanya aku samarkan, kali ini aku akan mengisahkan petualanganku dengan model yang wajahnya mirip Yessy Gusman. Aku bertemu dengan model cantik yang memiliki nama Indah ini ketika aku meliput pemilihan model di salah satu hotel bintang 5. Sebagai fotografer yang sudah dikenal di kalangan artis papan atas, membuatku selalu mendapat sambutan setiap aku muncul di berbagai event. Ini mungkin yang membuat model baru seperti Indah, ikut ‘hanyut’ akan kehadiranku.



“Hai, namaku Indah. Kenalan dong dengan Mas!”, sapanya dengan senyum manisnya yang menggemaskan.

“Oh., Boleh!”, jawabku kaget.

“Mas, mau dong di foto untuk media Mas!”, serang Indah.

“Lho, kok tahu kalau aku fotografer?”, kataku memancing.

“Lho siapa yang nggak kenal fotografer sekaliber Mas Boy! Di kalangan model sensual, nama Mas Boy kan sangat terkenal”, kata Indah merayu.

“OK! Aku jadi nggak enak hati nich, dipuji cewek secantik kamu. Kalau memang kamu kepingin tampil di mediaku, tahu dong syarat utamanya. Harus tampil sensual, kalau perlu tanpa busana he.. he.. he..”, kataku dengan nada memancing.

“Tapi dijamin jadi gadis sampul kan? Kalau dijamin aku mau, yang penting yang miskin (maksudnya tanpa busana) tolong untuk Mas saja, jangan dimuat di media massa dan internet”, jawab Indah.


Setelah sepakat, akhirnya aku janjian pemotretan dengan Indah di salah satu hotel di bilangan jalan Pramuka, Jakarta Timur. Pada hari Rabu yang telah disepakati, Indah datang bersama tiga rekannya yang tidak kalah cantik. Namanya Maya dan Ayu (bukan nama sebenarnya). Pemotretan dimulai di kolam renang tentunya, sambil ngetes kebenaran omongan Indah. Benar saja, Indah langsung mengenakan busana renang yang indah dengan warna cerah. Membuat Indah kelihatan semakin cantik saja.


“Gimana Mas, okey nggak?”, tanya Indah sekeluar dari kamar ganti.

“Badanmu benar-benar oke. Aku nggak sangka, cewek secantik kamu punya nyali sebesar kamu!”, pujiku.

“Demi karier dan masa depanku, resiko apapun aku hadapi Mas!”, tantang model yang memiliki ukuran bra 36B ini.

“Loh, kok nekad amat. Emang keluarga dan pacarmu mendukung?”, aku mencoba mengorek lebih dalam.

“Apapun yang aku tempuh, mereka mendukung. Karena mereka memang membutuhkan uluran tanganku. Sehingga mereka tidak bisa protes atas perbuatanku”, jawabnya dengan wajah menunduk.

“Indah, aku bisa bantu kamu. Tapi resikonya sangat berat, karena kamu mesti korban harga diri dan perasaan”, kataku.

“Nggak apa-apa Mas, yang penting Mas bisa mengorbitkanku menjadi model dan pemain sinetron terkenal”, jawab Indah sungguh-sungguh.

“Oke, sekarang kita mulai sesi pemotretan untuk sampul mediaku dulu di kolam renang ini. Setelah itu, kita sesi pemotretan di room, gimana?”, kataku.

“Oke!”


Lalu pemotretan berlangsung sampai pukul 05.30 dan menghabiskan 5 rol film isi 36, dengan berbagai gaya yang sangat menantang. Matahari mulai menghilang dari peredarannya, pemotretan di kolam renang aku akhiri dan dilanjutkan di kamar. Setelah beristirahat dan makan malam, Indah menawariku untuk sesi pemotretan lagi.


“Mas, foto lagi yuk!”

“Sip!”

“Pakai baju apa nich?”, tanya Indah.

“Ngapain pakai baju, tadi kan udah lima kostum. Bosan ah..”, ujarku menggoda.


Godaanku disambut serius oleh Indah. Indah dengan secepat kilat melucuti busana G string yang dari tadi menempel. Aku terperangah melihat kemolekan tubuh Indah yang memang indah, hampir saja kameraku terjatuh hanya karena memelototi tubuh putih mulus di hadapanku.


“Loh, kok bengong, ayo foto lagi apa nggak!”, ujar Indah membuyarkan imajinasiku.

“Oo, ya.. ya!”, jawabku tergagap.


Pemotretan di room makin seru saja, karena Indah adalah tipe model yang menuruti semua perintahku. Sehingga tanpa terasa 3 rol telah berlalu. Di saat aku mengarahkan gaya tidur Indah, secara tidak sengaja tangan Indah menyentuh ‘senjata pamungkas’ku yang dari tadi telah mengacung seperti anggota DPR yang melakukan interupsi.


“Loh, apaan nih Mas! Kok keras amat?”, tanya Indah sambil memegang rudalku yang kencang sekali. Akupun blingsatan mendapat reaksi sensitif dari Indah.

“Iya nich. Aku juga nggak konsen motretnya, habisnya tubuh kamu indah banget. Baru kali ini aku melihat tubuh bagus seperti ini”, rayuku.

“Ah, yang bener! Aku yakin Mas sering melihat tubuh lebih indah daripada tubuhku, kalau Mas Bilang tubuhku Indah, aku yakin Mas menghinaku”, katanya merajuk.

“Aku ‘kan mesti motret dulu”, kataku sambil menelan ludah.

“Buktinya Mas dari tadi, diem aja. Nyentuh tubuhku aja nggak, kalau memang tubuhku Indah, dari tadi Mas kan udah menyerangku”, kata Indah nakal.


Tanpa dikomando lagi, aku menyerang Indah dengan ganas. Indah pun memberikan perlawanan lebih ganas. Indah langsung menncopoti celana dan bajuku.


“Mas, kalau memang kepingin ngomong aja. Jangan ditahan, jadinya nggak baik Mas. Kayak gini, laharnya meleleh di celana, ‘kan cayang”, kata Indah sambil melahap senjataku dengan lahapnya.


Karena aku sudah horny dari siang, maka lahar panasku dengan cepat muncrat dengan kencangnya. Tanpa bisa menghindar, laharku pun ditelan Indah.


“Aduuh, Mas! Kok aku nelan lahar Mas sih, tapi asin-asin enak gitu”, katanya manja.


Kemudian aku lunglai tak berdaya. Dengan sabar Indah menyeka seluruh daerah ‘senjata pamungkas’ku. Seusai menyeka, Indah mengocok-ngocok senjataku dengan nafsunya.


“Horee.. ‘Mas Boy kecil’ bangun..”, sambut Indah sambil menjilati ujung senjataku.

“Ohh.. Kamu kok pinter say..”, ujarku dengan suara parau karena gairah seksku membara lagi.


Sedotan Indah semakin mantap dan lahap, imajinasiku kian melayang. Tanganku kemudian menyambar gunung kembar yang dari tadi belum sempat kuremas-remas. Begitu gunung kembarnya kuremas, Indah langsung terpancing.


“Mas, ciumi gunungku dong”, pinta Indah manja.


Kemudian aku melahap dua gunung yang sangat ranum dan menantangku untuk meremas-remasnya.


“Aakk, Mas! Aku nggak tahan nich”

“Say, posisi 69 ya!”, pintaku.


Aku langsung menindih tubuh Indah sehingga membentuk 69, aku tanpa diminta langsung menciumi gua nikmat yang akan membawaku ke sorga itu.


“Mas, kok uennak gini sich. Aku nggak tahan nich, mau.. kel.. aahh.. nah.. kan keluar”, ujar Indah.


Kemudian aku membalik badan, sehingga kami saling berhadapan. Indah langsung tersenyum dan langsung menyambar bibirku, kami pun kemudian berciuman dengan hangat.


“Mas, aku kepengin ‘disuntik’ sama senjata Mas, kayak apa sih rasanya”, kata Indah menggodaku.


Senjataku, kuarahkan ke gua yang dari tadi menunggu disodok, biar laharku keluar kian deras.


“Akk..!!” teriak Indah sambil mengigigit bibirnya.


Sodokanku pelan-pelan kutekan semakin dalam hingga membuat mulutnya menganga dan memainkan lidahnya. Kemudian aku menyambar lidah Indah, dan goyangan demi goyangan terus kutingkatkan.


“Mas, genjot yang keras lagi dong, ak.. ku mau kel.. uar lagi”.


Genjotan aku tingkatkan hingga membuat Indah sampai ke puncak kenikmatan.


“Aduuh.. Akk, Mas! Aku keluar lagi..”, Indah memang orgasme untuk kedua kalinya, sementara senjataku masing mengacung.

“Lho, Mas belum keluar ya?”

“Emang kamu nggak merasakannya Say?”

“Habisnya, aku enak banget. Jadi nggak mikirin Mas Boy”


Tanpa diminta, Indah langsung naik dengan posisi duduk dan mengarahkan lubang ‘gua’nya ke ‘senjata pamungkas’ku. Goyangan Indah kian liar, ketika ia berada di atas perutku. Ini membuat rasa nikmatku kian memuncak dan..


“Ya.. Yaa.. Keluar lagi deh” kata Indah.


Mendapat reaksi orgasme Indah, membuatku terpancing dan membalikan tubuh Indah sehingga posisinya di bawah. Dengan cepat aku memasukkan senjataku yang sudah memuntahkan lahar.


“Mas terus, terus.. Terus Mas.. Yang keras..”


Mendapat support dari Indah membuat sodokan kian kutingkatkan.


“Say, ak.. ku keluar”, kataku dengan nada tidak karuan.

“Aku juga Mas.. Bareng ya..”


Selesai genjot-genjotan, aku dan Indah tidur terlelap hingga jam 6 pagi. Indah tersenyum melihatku bangun.


“Pagi Mas..”

“Pagi, kok kamu bangun pagi amat?”

“Iya, kebiasaanku bangun subuh”, jawab Indah sambil menyedot rokok putih dalam-dalam.

“Mas, boleh nggak aku mohon satu permintaan, sebelum kita pisah hari ini?”, kata Indah sambil tersenyum nakal.

“Boleh! Paling kamu minta ongkos pulang ‘kan?”, Kataku enteng.

“Buk.. Bukan itu!”

“Lalu minta apa, kalau bukan minta uang?”

“Minta ‘rudal’mu lagi, puasin aku lagi donk..”

“Gimana yach..”, godaku.

“Gimana apanya?” kata Indah lagi-lagi dengan nada manja.

“Maksudku, gimana memulainya ha.. ha.. ha..”, kataku sambil melirik.


Indah langsung mengejarku dan kami pun kejar-kejaran seperti anak kecil rebutan mainan. Aku melompat ke tempat tidur dan Indah terus mengejarku.


“Mas nakal deh”


Kamipun kemudian berpagutan dan berciuman dengan saling serang. Tanganku langsung meremas-remas gunung kembarnya. Hal itu membuat Indah semakin ketagihan dan tangan Indah memegang tangan kananku dan menuntunnya untuk mengorek ‘gua selarong’nya yang sudah kebanjiran lahar. Jari tanganku langsung kuarahkan ke gua tersebut hingga..


“Akk, nikmat Mas. Teruskan Mas, terus ach.. ach aku keluar.. Mas!”, ‘kicau’ Indah.

“Mas, tuntaskan yuk”

“Okelah”, kataku.


Senjataku sebenarnya belum keras betul, sehingga aku malas-malasan untuk memasukannya ke ‘gua’ Indah. Bleezz..


“Mas, aku kepingin kenikmatan ini dari Mas Boy terus. Mau nggak?”

“Siapa nolak” jawabku sambil terus memompa Indah.


Indah menggoyangkan pantatnya dengan lincahnya hingga membuatku tidak tahan..


“Say.. aahh.. aku mau.. keluar.. nich..”

“Aku juga Mas.., aahh..”


Akhirnya kami berdua sampai ke puncak kenikmatan ‘pamungkas’. Jam telah menujukan jam 12.00, artinya kami harus check out.


“Mas, kalau tabloid yang memuat fotoku sudah keluar tolong kabarin ya, entar aku kasih hadiah deh”, pintanya dengan senyum menawan.


Dan seminggu kemudian foto Indah muncul di tabloidku.


E N D

Read full post »

Nikmatnya Nina

0 comments

KisahMesum.Com : Hai, kenalin aku Deni, 23 tahun, aku tinggal di Mataram Nusa Tenggara Barat, masih kuliah di PTN di kotaku. Aku ingin berbagi pengalaman sex yang pernah aku alami selama ini. Oh ia aku gambarin sedikit tentnag diriku, tinggi badanku 180 berat Ideal dan lumayan keren.. Temen – temen cewekku sering mengakatan bahwa aku manis, aku memiliki mr. P yg dengan panjang 20 cm dan kepala Mr. P lumayan besar..



Awal kisahku pada saat aku masih kelas 1 SMA di Mataram, aku saat itu memiliki hobi main basket, bersama dengan tim kami sering sparing partner di sekolah – sekolah lain.. Selesai ujian smester 1 aku diajak ke SMPN yang sedang mengadakan pertandingan basket oleh temenku yang juga satu tim basket namanya Aryo. Di SMP tesebut aku bertemu dengan seorang siswi yang cantik, tinggi dan memiliki buah dada yang cukup besar dibanding teman – teman sebayanya.. Dy sedang nonton pertandingan basket yang sedang berlangsung. Kudekati dan berkenalan dengannya, namanya Nina dan kami saling tukeran no Hp..oh ia saat itu nina masih duduk di bangku kelas 1 SMP..


Setelah perkenalan itu aku dan nina sering berhubungan melalui telpon.. Kadang kami janjian untuk main basket bareng di sekolahnya.. Setelah sebulan dekat dan sering keluar bareng, aku beranikan diri untuk mengatakan cinta dengannya.. Dan ternyata dia menerima aku sebagai pacarnya.. Seminggu setelah jadian aku jemput dy didepan sekolahnya dan aku ajak dy main kerumahku.. Aku hanya tinggal berdua dengan kakakku dirumah, namun pada saat itu kakaku belum pulang kerja..


Kami berdua duduk saling berhadapan di ruang tamu.. Aku lihat dia yang sungguh sanagat manis dan polos, dengan menggunakan pakaian seragam putih biru.. Samar – samar terlihat dari dalam bajunya BH hitam yang menutupi kedua gunung kembar yang putih mulus.. yang membuat nasfsuku meninggi, dua kancing baju yang seragamnya terlepas dan memberikan pandangan yang sangat membuatku terangsang..


Untuk memecahkan kecanggungan diantara kami berdua, kemudian kutawarkan kepada nina untuk nonton film BF..

“Nin, kamu pernah nonton Film gituan gak?”

Dy menjawab dengan sedikit malu “Udah kak, nina sering nonton film gituan bareng siska, bunga dan ria kak”

Aku sedikit kaget mendengar jawaban dari nina.. Aku semakin bernafsu dan gak sabar untuk mencium bibirx yang mungil dan meremas kedua gunung kembar yang masih terbungkus BH hitamnya..

“Nin, qt nonton yang ini aja ya?” Sambil kutunjukan salah satu koleksi kaset BFku..

“Iya kak, kayaknya bagus tu..” Jawabnya menyetujui..

Sebelum film mulai, kututup pintu dan jendela rumahku karna takut nanti kalo kepergok ama orang.. Hehehe…


Film yang kami tonton saat itu tetang three some.. Dimana cewenya dikerjai oleh dua orang cowok sekaligus..

“Kak, nina mau tanya ama kakak ni.. Tapi kakak jawab yang jujur ya..”

Di bertanya sambil tersenyum malu..

Lalu kujawab “kakak belum pernah begituan nin.., emang napa? Nina pernah gak?” Aku bali tanya.. Di tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya, yang menandakan dia tidak pernah gituan.. Lalu kutanyakan lagi kepada nina..

“Nina mau gak gituan ama kakak?”

Sambil menantapku dy menjawab “emang gak sakit ya loq qt gituan kak?” Dan sambil kupeluk dy, aku mengatakan “kayaknya sih nggak nin, liat aja film tu nin. Nampaknya mereka menikmati malah kesenengan.. Nina mau cobain gak?” Tanyaku lagi..

Dia terdiam sambil menyaksikan adegan filem bf yang sedang mempertontonkan sang cewe mendapat rangsangan pada payudaranya.. Kuberanikan diri untuk mencium pipi nina, meudian mencium bibirnya.. Dy hanya diam saja tanpa reaksi, kemudian ku remas lembut payudara pacarku.. Dy mulai memberikan reaksi dengan membalas ciumanku pada bibirnya yang mungil.. Kami berciuman dan saling memainkan lidah kami.. Saat itu juga aku membuka kancing – kancing baju seragam SMP pacarku itu hingga terlepas semuanya dan akhirnya dy hanya menggunakan bh dan rok birunya saja.. Aku sangat terangsang.. Kontolku mulai bangun dan terasa sesak didalam celanaku.. Kami masih terus berciuman dan pelan – pelan aku membuka bkaitan BH hitam yang masih menempel pada payudara pacarku.. Dan akhirnya……. Waaaww sungguh pemandangan yang luar biasa.. Payudara yang putih, mulus, dengan puting kecil yang berwarna merah muda membuat toketnya semakin seksi dan menggemaskan… Kuraba pelan dan kumainkan puting susunya.. Dy mulai mendesah pelan dan ciumannya semakin liar.. Kemudian aku perlahan turun mencium dagu, leher dan akhirnya susunya yang montok dan kenyal… Ku mainkan puting susu yang kanan dengan menggunakan lidahku dan susunya yang kiri kuremas – remas dengan tanganku.. Kuliahat dy semakin terangsang dan mendesah.. “Ahh..ah..ah… Kak… Geli…ah..ah…” Alu semakin terangsng dan kusedot dengan ganas puting susunya bergantian..

Kubuka seluruh pakaianku… Dy sedikit kaget melihat torpedoku yang cukup besar menantnag dengan gagahnya.. Kulanjutkan lagi permainanku di daerah susunya.. Dan terus turun keperut.. Kubuka rok dan sekalian bersama celana dalam yang dipakainya hinggannampak dengan jelas memeknya yang masih belum tumbuh bulu itu menyembul dan merekah dengan sedikit cairan bening yang mengalir.. Mungkin karena rangsangan yang aku berikan.. Kulanjutkan lagi ciumanku didaerah perutnya dan semakin menurun hingga sampai pada klitoris memek pacaraku itu.. Kucium aroma khas yang kemular dari memek pacarku itu.. Kemudian kujilat perlahan dan dia menggelinjang kegelian.. Dijambaknya rambutku dan kepalaku ditekan keras kearah memeknya yang mengakibatkan aku sedikit susah bernafas.. Sepertinya dia sangat bernafsu dan sangat menikmati permain lidahku dimemeknya.. Kurasakan semakin banyak cairan yang beraroma khas mengalir dan membasahi mulutku.. Kusedot cairan tersebut dan kutelan.. Rasanya aneh namun agak manis..

Aku sudah gak tahan, kemudian ku buka kakinya dan kunaikan kedua kakinya dipundakku.. Kucoba untuk memasukan batang kontolku kedalam memeknya yang sudah basah.. Dy sedikit merintih saat kepala kontolku masuk sebagian kedalam memeknya yang memang sangat sempit.. Kugoyang maju mundur pelan – pelan berharap agar dia tidak kesakitan dan tidak kehilangan mod untuk bermain.. Pelan – pelan kugoyang dan dengan sekali sentakan keras aku berhasil membobol keperawanan pacarku.. Dia menjerit “Kak ssaaaakkkiiittt…….” Dan darah segar mengalir membasahi sofa tempat kami bergumul.. Kudiamkan sejenak kontolku didalam memek pacarku dan kulihat dia sudah mulai terbiasa.. Mulai ku goyang kontolku maju mundur didalam memeknya.. Dia mulai mendesah – desah, sepertinya dia juga udah menikmati permainanku.. Aku terus menggenjot memeknya.. Terasa kontolku seperti disedot oleh memeknya.. Kupercepat genjotanku , dy mendekapku dan mencakar punggungku.. Sejenak dy mengejang dan akhirnya melemas.. Sepertinya dia telah orgasme.. Kemudian kuminta dia memperaktekan adegan film yang sedang kami tonton yaitu dengan menggunakan doggi style.. Dy menuruti permintaanku.. Kemudian kumasukan pelan – pelan batang kontolku kedalam memeknya yang sudah mulai longgar.. Kemudian ku genjot dari belakang dengan menggunakan gaya doggi.. Dy mendesah tiapkali aku hentakan kontolku kedalam memeknya.. Kuraih kedua susunya dari belakang dan kuremas – remas.. Dia semakin mendesah dan mengikuti genjotanku.. Sekitar 15 menit kami menggunakan gaya tersebut kemudian aku maerasakan bagaikan ada yang akan melesat keluar dari dalam kontolku.. Cepat – cepat kucabut kontolku dari pepeknya dan kumasukan kontolku kedalam mulutnya.. Awalnya dy gak mau.. Tapi setelah sedikit kupaksa akhirnya dy membuka mulutnya dan Cccccrrroooottttt…. Ccrrooottt… Crrroooott… Air maniku memenuhi mulut nina.. Kusuruh dy agar menelan air maniku.. Dy sedikit tersedak karena air kejantananku yang keluar cukup banyak dan sebaian meluber keluar dari mulut mungilx..

Setelah permainan itu kucium keningnya dan kukatakan “kakak cinta nina” di menjawab “nina juga cinta kakak..” Kemudian kami tidur – tiduran dalam keadaan sama – sama bugil sambil menonton film bf yang kami putar tadi hingga akhirnya kami terlelap.. Saat itu waktu menunjukan pukul 16.30 wita aku terbangun dan melihat dy masih tertidur kelelahan setelah aksi kami tadi.. Melihat dy telanjang bulat aku jadi terangsang, ku cium dan ku kenyot puting susunya.. Dy sedikit melenguh namun matanya tetap terpejam.. Sekitar 15 menit kumainkan susunya kemudian dy terbangun dan tersenyum.. Kubisikan padanya “nin, tolong emutin kontol kakak ya.. Biar kayak film td…” Tanpa menjawab dia langsung jongkok didepan kontolku dan langsung menjilat kepala kontolku.. Sssrrrr…. Rasanya bagaikan melayang – blayang diudara saat kontolku masuk kedalam mulutnnya..dia memainkan kontolku dengan lidahnya seperti difilm bf td.. Aku kemudian sudah gak tahan dengan perlakuan yang diberikan padaku.. Kemudian langsung saja aku angkat dy dan menyuruhnya jongkok tepat diatas kontolku.. Kumasukan kontolku kedalam memeknya dan blesss… Kontolku masuk seluruhnya kedalem memeknya.. Matanya merem melek merasakan nikmatnya kontolku didalam liang memeknya.. Sekarang giliran dy yang mengatur permainan, sungguh nikmat terasa saat dy menggoyangkan pinggulnya.. Dy trus bergoyang dan bermain diatasku.. Kuremas – remas kedua susunya yang menggantung indah didepanku.. Sungguh pemandangan yang sangat menggairahkan..

Sekitar 30 menit kami bermain dengan gaya itu, keringat kami keluar bagaikan mandi sauna.. Dy tampak begitu cantik saat bergoyang dan mendesah.. Aku merasakan sudah akan keluar.. “Sayang, aku udhb mau keluar.. Keluarin dimana sayang…?” “Aku juga sayang… Aku udah mau keluar nih.. Aku pengen rasain sayang keluarin didalem..”

“Ia sayang qt sama – sama keluarinnya ya..” Tak lama kemudian kami sama – sama menjerit “aaaahhhhhhhhhh…….”

Kurasakan memeknya berkedut – kedut seperti memijat kontolku yang tertancap didalamnya.. “Sayang kamu hebat.. Memek kamu kok kayaknya nyedotin kontolku.. Gimana caranya say?” “Biasa aja kok kak, nina gk pake apa – apa, kan kita baru pertama kali gituan kak…”

“Kamu hebat nin.. Aku sayang kamu” “nina juga sayang kakak”

Setelah permainan itu kemudian kami merapikan diri kemudian kuantar nina pulang kerumahnya..


Setelah kejadian tersebut kami sering melakukannya lagi bahkan setia hari kami melakukannya dirumahku, kadang dirumahnya juga.. Setelah lami pacaran selama 1 tahun, aku emncoba ide bagiku agak gila sih.. Kami berdua mencoba untul undang temen – temen sekolahnya kerumahku untuk nonton film BF.. Ya ternyata undangan kami mendapat respon dari temen – temennya yaitu Siska, Bunga, Mira, Ria dan Winda.. Mereka semua janjian untul bolos sekolah dan datang kerumahku untuk memenuhi undangan kami..


Waktu itu hari Sabtu tanggal 9 Oktober 2004 sekitar jam 9.00 wita, nina dan teman – temannya datang kerumahku dengan menggunakan taksi.. Aku memang menunggu mereka dari tadi dan langsung menyambut kedatangannya.. Setelah mereka kupersilahkan masuk, kemudian kututup pintu dan jendela rumahku.. Aku berusaha membuat kesan supaya rumahku nampak sepi tidak ada penghuni.. Hehehe..

Kemudian langsung saja aku tunjukan pada mereka tumpukan kaset DVD BF koleksiku, ksuruh pilih salah satu untuk ditonton.. Kemudian mereka sepakat memilih salah satu film bf tersebut… Suasana sangat hening saat adegan film telah dimulai.. Kemudian aku dan nina yang mempunyai rencana, mulai beraksi.. Kami saling bercumbu, berciuman dengan liar dan penuh nafsu dihadapan teman – temannya.. Mereka kaget melihat aksi nekad kami.. Awalnya aku agak canggung sih tapi akhirnya aku cuek aja.. Kami menirukan adegan ciuman didalam film yang tengah kami saksikan.. Perlahan lahan aku buka pakean nina dan aku hanya menyisakan BH dan Cdnya.. Aku juga membuka seluruh pakeanku dan aku hanya menggunakan cd aja.. Teman – teman nina nampak kaget dan siska bertanya “hey, kalian sedang apa?” “Kami sedang mencari kenikmatan sis..” Jawabku seadanya.. “Kenikmatan apa kak??” Bunga bertanya penuh rasa ingin tahu.. “Kenikmatan yang hanya bisa kita dapet dengan cara ini aja dan tidak ada yang bisa mengalahkan nikmatnya ini.. Kalian udah pernah ngerasain lum??” Tanyaku menggoda.. “Ngerasain apa kak?” Siska kembali bertanya.. “Ngerasain nikmatnya ngentot sis..” Celetuk pacarku.. Mereka semua terdiam melihat aksi kami.. Kulucuti Bh dan cd yg dikenakan nina.. Kulepaskan juga cdku hingga terlihat kontolku yang tegak menantang.. Siska, Bunga, Mira, Ria dan Winda terkejut melihat kontolku.. Mereka tumben melihat kontol asli didepan matanya, karena biasanya mereka hanya melihat di film Bf saja.. Kemudian kuberi isyarat kepada nina untuk mengemut kontolku.. Nina nampak enjoy dan sengaja mengemut kontolku dengan penuh nafsu dengan tujuan untuk memrangsnag teman – temannya.. Dan benar saja, nina menawakan kepada siska untuk ngemut kontol ku.. “Sis, kamu mau nyobain ini gak? Enak lho sis..” Sambil mengacungkan kontolku kepada siska.. “Emang rasa apa nin? Ih gak jijik kamu nin?” Tanyanya geli.. “Makanya kamu cobain dah dulu baru nanti komentar..” Kemudian nina menarik tangan siska dan meletakkannya pada batang kontolku.. Kemudian nina mengajarkan pada siska cara mengocok kontolku.. Akhirnya dengan penuh rasa malu siska ngocokin kontolku.. “Di emut dong sis..” Mendengar perintah nina kemudian siska mulai memasukan kontolku ke dalam mulutnya danb mulai melakukan aksi emotnya.. Awalnya siska tersedak.. “Gini caranya sis..” Nina mengambil alih dan memasukan kontolku kedalam mulutnya sembari meririk siska.. “Nih kamu cobain lagi.. Enak kok..” Sambil memberikan kontolku pada siska.. Siska mencoba yang diajarkan nina dan akhirnya siska mulai mahir memainkan kontolku dengan lidahnya.. Sekitar 10 menit siska memainkan kontolku, kemudian nina menawarkan kontolku kepada bunga.. Bungapun mau melakukannya dan begitu juga dengan Mira, Ria dan Winda.. Mereka bergantian ngemutin kontolku.. Dan akhirnya aku merasakan bahwa kontolku akan menyemprotkan maninya.. Kemudian kusuruh nina menyedot kontolku yang akan mengeluarkan maninya.. Dan akhirnya….. Cccrrrooottt…..croottt… Maniku memenuhi mulut nina.. Nina pun menelan seluruh maniku yang keluar didalam mulutnya..


Saat itu waktu baru menunjukan pukul 12.30 wita kami ber enam masih menyaksikan adegan film bf yang masih diputar.. Kontolku mulai ngaceng lagi.. Aku dan nina masih dalam keadaan bugil, nina meminta memeknya untuk disedot.. Nina duduk sambil membuka lebar kakinya tepat didepan wajahku sehingga terlihat jelas memeknya.. Tanpa basa – basi langsung saja kujilati memeknya nina dan ku sodok – sodok lubang memeknya dengan menggunakan lidahku.. Dia mengelinjang dan mendesah – desah kegelian.. “Aah…. Ah.. Ah…. Khhaakk… Ahkhuu.. Udddaahhh gghhaaakk… Naahhaaannn…… Mhassukkiinn khhaaakkk… Aaahhhh….” Kulihat teman – teman nina serius mengamati perlakuan yang kuberikan pada nina.. “Hheeyy kalian mau rasain juga gak? Loq mau buka deh pakean kalian.. Cepet…” Seru pacarku pada temen – temannya.. Merekapun langsung menuruti kata – kata nina bagaikan dihipnotis… Siska mengambil tempat di sampingku dan mencari kontolku untuk di emut.. Bunga langsung menyedot nyedot payudara nina sebelah kiri, mira mengenyot payudara siska sebelah kanan, ria berdiri dihadapan nina dan mengarahkan memeknya kewajah nina dan winda ikut bersamaku menjilat memek nina.. Pemandangan saat itu sungguh sangat menggairahkan.. Aku gak tahan dengan emutan siska pada kontolku.. Langsung saja aku ambil posisi dan mengarahkan kontolku ke lubang memek nina.. Dan sekali doromg kontolku lenyap ditelan memeknya.. Ahh… Ah… Ah… Nikmat bgt..


Maaf gan.. Sekian dulu.. Aku masih ada kerjaan lain yang mesti diselesaikan.. Lain waktu aku lanjutkan kisahku dengan Nina dan kawan – kawan…

Trims..

Read full post »

Lagu Kehidupan 3

0 comments

KisahMesum.Com : Sambungan dari bagian 02


Sesaat kemudian kubaringkan tubuh Imel di sampingku, dan sekarang bibirku kembali bergerak merasakan asinnya keringat Imel di lehernya, terus menyusuri tepi belakang rambutnya.

“Fran.. ach.. ach.. ugh.. hhmm,” desah birahi Imel yang kembali naik.

Perlahan kucabut burungku, walaupun Imel masih berusaha menahannya, namun kubalikkan tubuh Imel dan sekarang dia tidur telungkup. Sementara itu jemariku kembali bergerilnya menyelusuri tubuh berkeringatnya, licin namun memberikan sensasi tersendiri. Bau khas parfum bercampur keringat seperti itu dapat terus mempertahan kejantananku.



Kemudian masih dalam posisi tidur telungkup itu kuselipkan burungku dari belakang.

“Egh.. hhmm.. ach.. ach.. ach.. Fran.. enak.. ach..!” rintih Imel tertahan.

Hanya dengus napas memburuku sebagai jawaban dari rintihan Imel, dan perlahan aku mulai mengocok lagi seraya menikmati betul gesekan leher burungku di sarangnya. Keluar masuk, keluar masuk, perlahan dan semakin lama semakin cepat seiring dengan lenguhan Imel yang semakin panjang.

“Ach.. ugh.. ugh.. ugh.., Fran.., terus.. ach.. ach..!”


Hingga suatu saat, kucabut dan segera kubalikkan tubuh Imel menghadap ke arahku dan segera kupentangkan kakinya lebar-lebar dan kuraih betisnya untuk segera kunaikkan ke pundakku. Terbuka sudah hutan basah itu dengan bibirnya yang masih terpecah menganga dengan warna merah muda dominan di bagian dalamnya, sedangkan bibirnya berwarna lebih tua dan bengkak, nampak besar bibir itu tidak sebanding dengan panjangnya.


Namun pantat itu tidak dapat diam, terus menggeliat, mencari cengkraman yang hilang.

“Fran.., cepet, gue.. ach.. ngga.. tahan.. ach..!” pinta Imel seraya terus mengangkat-angkat pantatnya berusaha menutupi kegelisahan dan kekosongan liangnya.

Dengan gagah dan sedikit sentakan kuat segera kuhunjamkan batangan itu masuk dan menyentuh hingga ke dasarnya.

“Aacchh..!” desah Imel terpuaskan.


Sementara aku segera memompa dengan kecepatan tinggi yang terus meninggi hingga batas tertentu yang kurasa pas untuk kupertahankan untuk beberapa saat. Hingga pada suatu kesempatan, kepala Imel terangkat dan segera menghisap kuat dadaku hampir bersamaan dengan hentakan kuat batanganku sebelum melepaskan pelurunya tepat di dasar vagina Imel.


“Fran..,” rintihnya halus bersamaan dengan ambruknya tubuhku menindih tubuh Imel setelah sebelumnya kubiarkan kaki Imel turun dari pundakku.

Lemas rasanya seluruh tubuhku, dan genggaman Imel di antara jemariku memberikan sensasi tersendiri. Kulit kami yang berkeringat juga memberikan rasa licin yang menambah kehangatan yang ada, dan tentunya juga bau khas keringat nafsu.


Bab IV


Gerakan daun pintu kamar sempat tertangkap oleh sudut mata Imel saat dia membuka matanya, sehingga secara reflek dia menoleh ke arah pintu kamarku yang tidak terkunci tersebut. Reflek aku juga ikut menoleh dan.., masih sempat terlihat Sandra ada di balik pintu itu sebelum dia tutup karena terkejut, tidak kalah terkejutnya dengan aku juga.


Segera aku bangun dan meraih celana pendek serta kaos yang kusampirkan di kursi belajar tadi, dan segera aku keluar kamar. Tidak ada. Bagai lari kesetanan aku meloncati 3 sampai 4 anak tangga sekaligus dan mencari keluar, namun ketika aku sampai di luar hanya ekor dari Honda Civic coklat susu model terbaru yang sempat kulihat.


Segera aku masuk dan menelpon, tentu ke HP Sandra yang kutuju, tapi tidak ada respon. Wah, pusing aku. Hancur lagi dech hidupku. Aku terduduk di kursi ruang tamu tanpa tahu apa yang harus kulakukan, bengong seperti orang bego habis ketangkap basah, mau apa lagi..?


“Siapa Fran..?” suara lembut dari belakang itu menyadarkanku bahwa masih ada orang lain di rumah ini.

“Sandra.., cewe gue,” sahutku pendek.

“Ooppss..,” ada nada sedih, “Fran, apa yang bisa gue bantu?” tanya Imel lirih.

“It’s OK.., lo pulang aja dech..!”

“Fran..?”

“Gue ngga pa-pa kok..,” sahutku lirih seraya berusaha memberikan senyum untuk meyakinkannya.


Yach.., ini juga salahku, dan aku tidak mungkin menyalahkan Imel oleh karena tadi aku juga mau melakukan itu. Kemudian memang kebiasaanku dari dulu, siapa saja yang cari aku di rumah ini berarti temen dekat, dan biasanya mereka akan langsung naik ke kamarku. aku juga tidak dapat menyalahkan Pak Prapto, tukang kebun, atau Bik Imah, pembantu rumah ini, karena sudah tahunan mereka bekerja dan semuanya tahu kebiasaanku, kalau teman-temanku yang tahu rumah ini biasanya langsung ke kamarku. Kalau bukan teman dekat mereka tidak akan tahu rumahku yang ini, jadi aku juga tidak dapat menyalahkan mereka.


“Fran, gue sebenarnya mau ngucapin terimakasih lo udah bantu kesulitan keluarga gue,” kata Imelda perlahan.

“Yach..,” sahutku pendek.

“Sorry Fran, atas kejadian ini.., kalau lo butuh gue untuk jelasin ke Sandra nanti call gue yach..!” pinta Imel merasa bersalah.

“Oke,” sahutku pendek.

Dan setelah itu Imel pun segera pergi dan berlalu.


Segera setelah Imel pulang, aku mencoba menghubungi Sandra lagi via HP, tapi tidak aktif. Akhirnya aku mandi dan segera pergi ke rumah Sandra.


“Sore Tante,” sapaku ketika pintu rumahnya terbuka.

“Sore.. wah Fran, Sandranya ngga ada di rumah nich, katanya mau ke rumah kamu?” jelas ibunya Sandra kebingungan melihat kedatanganku.

“Eh.., anu Tante,” bingung aku mau bilang apa lagi, “Oh.., belum pulang Tante dari tadi?” tanyaku selanjutnya.

“Belum tuch,”

“Oh..ya udah Tante, biar Fran cari dulu.” sahutku seraya ingin segera berlalu.


“Ribut lagi, Fran?” penuh selidik beliau bertanya.

“Eh.. ngga Tante.” sahutku menyangkal.

Tapi senyum beliau yang memaklumi menyelamatkan perasaan kacauku yang sesungguhnya berkecamuk bagai badai di dalam dada. Ach.., memang aku yang salah.


Beberapa tempat sudah kucari, mulai dari teman dekatnya Sandra hingga beberapa tempat yang biasa dia kunjungi, tapi batang hidungnya tetap tidak nampak. Sampai jam 12 malam lebih aku masih berusaha mencarinya. Sudah kuminta juga bantuan teman dekatku untuk menginformasikan keberadaan Sandra bila mereka melihatnya, tapi tetap tidak ada berita, seperti hilang di telan bumi, sementara di rumahnya tetap belum pulang.


Hingga pada jam 24.45, “Malam.. Fran..?” suara lembut di seberang sana memanggil namaku ketika telpon itu kuangkat.

“Malam Tante, gimana sudah ada berita dari Sandra?” tanyaku cemas setelah aku dapat memastikan bahwa itu adalah telpon dari ibunya Sandra.

“Baru saja Sandra telpon, katanya dia ngga pulang malam ini, tapi ngga mau bilang tuch dia ada dimana.” jelas beliau.


“Oh.., tapi ngga kenapa-kenapa Tante?”

“Ngga ngomong tuch, cuma tadi pesennya ngga pulang aja malam ini.”

“Oh..”

“Ya sudah.., kamu pulang istirahat sana..!” pesan beliau sebelum mengakhiri percakapan di telpon malam itu.

“Baik Tante. Terimakasih dan selamat malam.” sahutku kecewa.

“Malam.” sahut suara di ujung sana.


Sampai 2 hari aku tetap tidak dapat menjumpai keberadaan Sandra, walaupun dia tetap telpon ke rumahnya, dan tentu saja hidupku semakin kacau. Gila.., satu urusanku belum dapat teratasi, perasaan salah itu kini bertambah lagi dengan kesalahan fatal yang kuperbuat sendiri. Semakin down rasanya, ingin menangis rasanya. Justru di saat aku susah gini, tidak ada teman yang dapat menghiburku. Tidak ada tempat aku dapat berkeluh kesah dan bermanja. Apakah semuanya salahku..? Memang aku sich yang salah.


4 hari setelah kejadian yang memalukan itu, ketika aku baru bangun tidur siang dan turun ke bawah untuk cari makan, “Den Fran.” panggil Bik Imah.

“Ada apa Bik?”

“Tadi Nak Sandra datang tapi ngga masuk, dia cuma titip ini sama Bibik, katanya minta disampaikan ke Den Fran.” sahutnya hati-hati.

“Apa?” bagai disengat kalajengking aku terkejut.

“Kok Bibik ngga bilang sich?” sahutku ketus menyalahkan seraya mengambil bungkusan kecil yang disodorkan oleh Bik Imah.

“Nak Sandra bilang ngga perlu Den.” sahut Bik Imah takut.

“Ya sudah.”

Memang aku juga tidak dapat menyalahkannya.


“Ada apa yach Den, kok mata Nak Sandra juga bengkak begitu kaya abis nangis.” jelas Bik Imah selanjutnya.

Mataku yang melotot sudah cukup untuk membungkam pertanyaan selanjutnya dari Bik Imah, dan tubuh ringkih itu segera pergi kembali ke dapur menuju habitatnya.


Isi dari bungkusan itu adalah selingkar cincin yang pernah kuberikan ke Sandra sebagai tanda cintaku saat pesta valentine tahun lalu. Aku beli cincin itu sepasang, satu buat Sandra dan satu lagi buat kupakai, yang sekarang sudah dikembalikan. Aku mengerti ini artinya Sandra sudah membuat keputusan untuk mengakhiri hubungan kami, tapi rasanya aku belum puas kalau aku belum bertemu langsung dan berbicara dengannya.


Sore-sore aku datang lagi ke rumahnya dan menunggu lama, hampir 1 jam sebelum akhirnya Sandra keluar dan menemuiku.

“San..,” panggilku lirih.

“Ngapain lo datang-datang lagi?” sahutnya ketus.

“San.., gue mo minta maaf, gue bener-bener minta maaf dan gue mo jelaskan ke loe.”

“Mo nyangkal?” sahutnya tetap ketus.

“Ngga.. San, gue emang salah, tapi gue mo lo juga tau permasalahannya dan baru lo ambil keputusan.” pintaku memelas.

“Ngga perlu, biar gimana hati gue udah terluka dan gue ngga mungkin jalan sama lo.”

“San, tolong berikan kesempatan buat gue sekali lagi.” masih aku mencoba meminta.

“Sudah selesai dan tak ada penyesalan.” senyum dingin menghias bibir Sandra kali ini.


Ketegaran telah nampak di sikap Sandra, dan memang biasanya sulit sekali mengubah keputusannya. Aku sudah menceritakan semuanya ke Sandra tentang masalahku mulai dari kasus Irene yang selama ini kutanggung sendiri sampai juga ke soal Imelda yang akhirnya dipergokinya itu, namun semuanya tetap tidak mengubah pendiriannya untuk tetap mengakhiri hubungan kami. Aku juga sudah minta agar Sandra mau berpikir lagi 2 atau 3 hari lagi sebelum benar-benar mengambil keputusan, namun Sandra tetap menolak. Tegas sekali keputusannya dan tidak ada lagi langkah kompromi buatku.


Rasanya seluruh dunia berputar saat itu, masa sich orang lain yang nyeleweng berkali-kali masih dapat tempat maaf, sementara aku baru sekali saja sudah tidak ada lagi tempat maaf. Sebenarnya aku masih berharap bahwa aku masih dapat menjumpainya 2 atau 3 hari setelah pertemuan sore itu, namun itu semua tinggal harapan karena besoknya Sandra sudah pergi ke pedalaman Sulawesi menemani junior kami yang akan melakukan kerja lapangan selama 3 minggu di sana, dan aku tahu pasti di sana sudah ada Andre.


Andre adalah orang yang dulu sempat digosipkan pernah jalan sama Sandra, tapi disangkal oleh Sandra. Yang kutahu sich memang Andre naksir berat ke Sandra, tapi waktu itu Sandra yang menolak. Tapi sekarang sejarah sudah berubah, aku sudah mengecewakan Sandra, dan bukan salahnya kalau dia sekarang beralih ke Andre yang senantiasa setia menanti dan tidak ada lagi tempat buatku di hati Sandra.


Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak berguna. Hidupku sudah hancur rasanya, namun roda kehidupan harus tetap berjalan. Dan semuanya harus kujalani. Aku harus tegar, dapat menegakkan kepala, aku lelaki bung. Demikian semangat yang selalu kubangkitkan dari dalam.


Rasa sesal di dalam hati

Diam.. tak mau pergi

Haruskah aku lari dari,

kenyataan ini..

Lelah kumencoba,

‘tuk sembunyi..

Namun senyummu.. terus mengikuti

Lagu itu sayup-sayup terus bergayut dalam kalbu setiap malam menjelang tidur. Ach..


TAMAT

Read full post »

Lagu Kehidupan 1

0 comments

KisahMesum.Com : Bab I


Deringan lembut handyphone di saku celana meminta perhatianku diantara kesibukan siang itu.”Selamat siang, dr. Fran di sini.” sahutku menghentikan sejenak kegiatan membuat resume pasien siang itu.

“Siang dok, Ini Yuli, mau mengingatkan nanti sore ada meeting di pabrik dok.” sahut suara lembut di ujung sana.

“Oh ya, terimakasih, nanti saya akan datang.” tegasku.

“Terimakasih, selamat siang dok.”

“Siang.”



Demikianlah percakapan singkat siang itu sedikit mengusik keasyikanku dan sambil menunggu berlalunya waktu. Pikiranku melayang ke rencanaku selanjutnya selepas tugas. Yach aku harus ke tempat papa, pabrik garment di sekitar Pasar Rebo sana, sebab jam 4 sore nanti ada management meeting katanya.


Masih terngiang permintaan papa tadi pagi agar aku menyempatkan diri untuk dapat hadir dalam meeting tersebut. Yach, papa ingin aku mau terlibat dan meneruskan usaha yang telah papa rintis sejak dulu.


“Sore dok.” sapa Pak Budi satpam pabrik sopan ketika aku keluar dari mobil setibanya di pabrik sore hari itu.

“Sore juga, sudah ngumpul Pak?” tanyaku kemudian.

“Baru team Bandung, dok.” jelasnya seraya menutupkan pintu mobilku.

“Oh..,”


Sebagai informasi tambahan, saat ini group yang papa pimpin sudah punya 3 lokasi pabrik, satu di Pasar Rebo ini, satu di Bekasi dan satu lagi di Bandung. Kapasitas produksi yang paling besar adalah yang di Pasar Rebo ini. Masing-masing pabrik memiliki Factory Manager, tapi keseluruhan operasional ada di bawah management pusat yang berkedudukan di Pasar Rebo, Jakarta. Pabrik-pabrik ini semula adalah milik perusahaan lain yang kemudian diakuisisi oleh papa.


Pabrik yang di Pasar Rebo ini cukup luas, tanahnya saja kira-kira 20 m X 100 m, sedangkan yang jadi bangunan hanya 12 m X 90 m saja, oleh karena bagian depan untuk tempat parkir sedangkan sisi samping kiri untuk jalan masuk mobil box ke belakang, ke gudang maksudnya untuk bongkar muat. Di bagian depan terdiri atas 2 lantai, yang bawah menjadi ruang receptionist sekaligus show room, dan sedikit ruangan untuk departement designer dan pola, sedangkan di lantai 2 semuanya jadi kantor.


Dan seperti biasanya, begitu masuk aku langsung menuju ke kamar kecil. Kata orang, kamar kecil harus bersih dan itu mencerminkan bagaimana jalannya suatu perusahaan. Hal ini kucermati benar oleh karena pasar eksport kami juga sebagian ke negara-negara Asia yang memperhatikan benar masalah ini. Nampak semuanya baik-baik saja.


Setelah itu aku naik ke atas dan langsung masuk ke ruang kerja papa, tapi tidak ada papa di ruangan itu. Ketika aku mau keluar, sempat terlihat seberkas buku yang menarik perhatianku, dimana di sampulnya tertulis cukup besar dan menyolok ‘PT. Adi Busana Tirta Mandiri’ dengan warna biru dan juga tertulis jelas ‘CONFIDENTIAL’ yang berwarna merah.


Jadi aku masuk dan mengambil buku itu yang cukup tebal dan duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Kubaca-baca buku itu tanpa tahu apa maksudnya, tapi isinya ada profil perusahaan, susunan management, daftar list customer, pasar eksport, jatah quota tahun fiskal berjalan dan lain sebagainya, lengkap sekali. Yang menarik adalah pemilik dari perusahaan ini, yaitu Bapak Tedy Gunawan, yang punya anak perempuan Imelda Gunawan, Imel.


Aku pernah dekat dengan Imel, dua angkatan di bawahku dari FE dan waktu itu aku sudah di tingkat 4, dan aku kenal dia saat aku mulai aktif di senat. Waktu itu aku mulai coba-coba aktif di kampus, biar bergaul sedikit gitu. Terus kami berkenalan waktu sama-sama aktif di organisasi kampus, tepatnya saat membentuk kepanitiaan, dimana aku sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran dan dia dari Fakultas Ekonomi.


Dari situ aku sempat dekat dengan Imel dan beberapa kali main ke rumahnya, namun suatu kali bukan Imel yang menemuiku tapi Bapak Tedy Gunawan beserta nyonya. Aku sempat dikuliahin panjang lebar dech, dimana disinggung juga mengenai masa depan yang masih jauh dan perlu dipikirkan matang-matang, bukan hanya sekedar emosi dan lain-lain. Tapi inti yang dapat kutangkap sich hubungan kami tidak direstui, mungkin Bapak Tedy Gunawan hanya melihat dari sisi penampilan fisikku yang hanya mengendarai GL Pro.


Jadi hubunganku dengan Imel rasanya tidak sampai 3 bulan, dan celakanya waktu kucoba menemui Imel setelah kejadian itu, dia nampaknya segan untuk melanjutkan hubungan. Tidak lama setelah itu aku sering melihat dia jalan dengan Ramli anak Fakultas Tehnik, dengan penampilan lebih yahud dariku (kendaraannya Civic model terbaru saat itu).


Buat kusendiri yach tidak ada rasa sakit hati tuch, hanya kecewa saja. Gimana yach, namanya juga baru jadian, jadi belum membekas dan mendalam gitu, yach berlalu gitu saja tanpa kesan yang mendalam.


“Eh.., sudah datang. Sudah lama?” suara khas itu sedikit mengagetkanku.

“Baru Pa.., ini untuk apa?” tanyaku seraya menunjukkan buku yang sedang kubaca ini.

“Oh.., mau dijual tuch.” tukas papa pendek.

“Terus.. Papa berminat?”

“Memangnya kenapa..?” tanya papa berbalik.

“Gini dech.., biar Fran yang pelajari, oke..?” pintaku cepat.

Papa mengerutkan kening, tanda heran sekaligus tidak setuju.


“Gini Pa, saat ini kita memang punya 3 pabrik dan seluruhnya di bawah management kantor pusat ini. Fran kira kita punya tim management yang sangat solid, tapi perlu diingat hal ini sudah berlangsung cukup lama, dan kita perlu memikirkan peningkatan karier bagi para manager yang ada. Intinya Fran ingin mengembangkan mereka untuk masing-masing berkembang dan membentuk tim yang solid sekaligus membagi resiko.” jelasku menyakinkan.

Tidak tahu apakah papa menangkap maksudku atau tidak, tapi yang pasti dengan isyarat papa mengangkat bahu, itu sudah cukup.


Segera aku pergi ke ruang Pak Ferdinand, yang kutahu benar dia jago di bidang accounting dan sangat berpengalaman, beliau sudah bekerja dengan papa sejak perusahaan ini berdiri. Setelah basa basi sejenak, kuungkapkan keinginanku agar beliau mempelajari proposal PT. Adi Busana Tirta Mandiri tersebut dan kuminta jawaban itu minggu depan.


Dalam meeting juga tidak ada yang istimewa, semuanya seperti biasa, hanyalah hal-hal rutin (laporan masing-masing pabrik mengenai produksi, rencana produksi, kemudian dari marketing mengenai program kerja yang dijalankan dan rencana kerja, yang tentunya juga berkaitan dengan divisi kuota dan lain sebagainya).


Yang menarik justru issue yang dilemparkan oleh Bapak Yunus selaku personalia pabrik di Bandung yang mengungkapkan adanya rencana aksi buruh untuk menggoyang pabrik. Katanya gejala ini sudah melanda Bandung selatan dan mulai bergerak ke lokasi pabrik kami, provokatornya juga sudah menghubungi Pak Yunus dan mengungkapkan bahwa di pabrik kami ada tuntutan buruh, walaupun itu di luar normatif, namun mereka meminta agar kami mempertimbangkan masalah itu, bila tidak dipenuhi dapat terjadi demo.


Kesannya ini memang serius bahwa ada usaha untuk menggoyang, tapi seberapa jauh merasuk ke lingkungan pabrik. Pak Yunus belum dapat memberikan prediksinya. Usulku dalam meeting itu agar Pak Yunus dapat langsung menghubungi Pak Asep yang diinformasikan sebagai provokatornya, tapi aku yakin pasti ada orang lain di belakang Pak Asep itu, dan hal ini sudah kupesankan ke Pak Yunus untuk mencari tahu siapa dalangnya, lalu kami beli saja dia, daripada repot-repot mengurusinya, asal jangan terlalu mahal.


Buatku ini adalah masalah yang cukup serius, sambil nanti kami menginstropeksi di bagian mana yang perlu kami benahi untuk meningkatkan kesejahteraan buruh, yang penting jangan sampai meledak dulu. Kalau sudah meledak akan sulit bagi kami untuk meredamnya, dan akan lebih mahal lagi kami membayarnya. Nampaknya semua setuju.


Bab II


“Sore Pak Ferdinan, ini Fran, saya sedang menuju ke sana dan tolong siapkan laporan analisa Bapak mengenai busana, kita diskusi sore ini.” demikian pintaku melalui telephone sore itu.

“Baik dok.”


Demikianlah sore hari itu aku berdiskusi panjang lebar mengenai status financial dan prospektif dari perusahaan dengan Pak Ferdinan, serta beberapa kemungkinan pos-pos yang dicurigai, sehingga dapat menimbulkan neraca defisit demikian besar. Istilah kerennya sich studi kelayakan gitu, tapi dari sisi financial saja termasuk pos kuota yang terkenal pos basah untuk bermain dan korupsi. Selesai itu aku berdiskusi lagi masalah itu dengan papa dan juga mengenai visi dan misiku panjang lebar, dan akhirnya papa menyetujui dibentuknya tim sukses.


Tim yang kuminta adalah Bapak Riandha selaku Project Officer, beliau saat ini menjabat sebagai Export Director dan aku yakin beliau memiliki kemampuan memimpin yang baik, dan dari bagian itu juga sudah ada calon penggantinya, sehingga kalau Bapak Riandha kuambil untuk posisi Managing Director di BUSANA, bagian export tidak akan terganggu.


Kemudian dari finance kuminta Bapak Hernadi, beliau adalah binaan Pak Ferdinan yang merupakan calon potensial, tapi tidak akan naik posisinya selama masih ada Pak Ferdinan. Jadi kuminta beliau untuk menangani BUSANA.


Aku juga punya keyakinan bahwa Pak Riandha dan Pak Hernadi dapat bekerja sama dengan baik dan aku juga yakin dengan komposisi ini ditambah nanti dengan pilihan mereka sendiri aku akan punya tim yang tangguh untuk mengatasi persoalan yang membelit BUSANA selama ini.


Dua bulan setelah pembentukan tim itu, disimpulkan bahwa kami jadi untuk mengakuisisi PT. BUSANA ADI TIRTA MANDIRI dan pada keputusan akhir disepakati bahwa Bapak Tedy Gunawan masih menjadi board of Director, sedangkan aku sendiri sebagai Presdirnya. Itu juga atas rekomendasi Bapak Riandha yang menilai bahwa Bapak Tedy pada dasarnya memiliki kapabilitas untuk itu, hanya saja hampir seluruh director dan head departementnya dicopot, yang masih dipertahankan beberapa orang saja termasuk dari bagian marketing.


Ini asli aku tidak ikut campur tangan terhadap analisa dan pembentukan kepengurusannya. Aku hanya menyetujui saja. Jadi benar-benar murni bisnis atas dasar kemampuan Bapak Riandha selaku Managing Director yang baru yang kuberikan wewenang penuh untuk pembentukan dan negosiasi dengan backup dari aku dan papa. Memang agak terbalik, tapi aku percaya dengan loyalitas dan kemampuan Bapak Riandha, tentunya di samping itu aku juga sebenarnya tidak mengerti sekali urusan garment ini.


Bapak Riandha sendiri juga tidak mengetahui adanya latar belakang atau ambisi pribadiku untuk mengakuisisi perusahaan itu. Yang selama ini kutunjukkan kepadanya adalah bahwa sudah saatnya Bapak Riandha berkembang dan menunjukkan kemampuannya dan lepas dari bayang-bayang kesuksesan papa selama ini untuk memimpin. PT. Busana Adi Tirta Mandiri ini juga berada di luar group papa, sehingga tidak ada nama papa di susunan kepemilikan perusahaan ini sekaligus untuk membagi resiko, demikian argumentasi yang kuajukan waktu itu dan nampaknya dapat dimengerti oleh papa.


Yang seru sebenarnya waktu penandatanganan berita acara pengalihan kepemilikan, waktu itu memang sudah agak terjepit posisi Bapak Tedy terhadap bunga hutang dan hutang pokok yang sudah jatuh tempo serta perjanjian-perjanjian lainnya dengan pihak lain. Sehingga bilamana waktu itu aku mundur dari rencana semula, maka habislah riwayat Bapak Tedy, mungkin rumah dan harta miliknya akan disita oleh Bank. Tapi bila aku masuk dengan fresh money dan pengambilalihan saham kepemilikan, maka beban biaya menjadi tanggunganku, sehingga Bapak Tedy dapat terhindar dari tuntutan hukum itu.


“Selamat siang dok, ini Yuli.., mau mengingatkan siang ini dokter di tunggu di kantor Busana,” demikian pesan sekretaris papa.

“Oh ya, sebentar saya menuju ke sana.” aku memberikan kepastian.

“Dok.., Riandha nich..!” tidak lama setelah Yuli telpon, Bapak Riandha juga mencoba untuk mengingatkan aku bahwa siang itu aku harus menandatangani berita acara jual beli sekaligus serah terima kepemilikian perusahaan.


Kulirik jam tanganku, hehehe.., aku memang terlambat hampir 1 jam dari yang seharusnya. Yach, memang selain aku sengaja terlambat, sebenarnya aku juga tadi banyak pasien, sehingga aku baru selesai lebih siang dari biasanya.


Bersambung ke bagian 02

Read full post »

Lola Penjaga Apotik

0 comments

KisahMesum.Com : Kisah ini merupakan flashback semasa bujang. Terus terang saja, aku menikah di usia 30 tahun. Sewaktu awal dua puluhan rasanya tidak ada cewek yang berhasil kupikat. Tapi sejak usia 25 tahun hingga menikah, aku menyadari di dalam diriku tercipta suatu daya pikat alami. Tidak perlu susah-susah cari jimat atau pelet, ada gadis yang secara agresif mengejarku, ada pula yang pasang signal untuk kemudian menyerahkan diri. Salah satunya adalah Lola, pramuniaga apotik di dekat rumahku.



Sebenarnya ada lebih dari tiga apotik di sekitar rumahku. Apotik ‘XX’ adalah yang tertua di sini. Selain harga obatnya murah, terus terang yang bikin lengket adalah pramuniaga yang langsing, cantik nan murah senyum, yang kemudian kuketahui bernama Lola.


Setelah berulang kali dilayani gadis kuning langsat dengan senyum menggoda ini, aku memberanikan diri mengajaknya berkenalan ketika apotiknya sedang sepi.

“Boleh kenalan? Namaku Bandi,” ujarku sambil mengulurkan tangan.

“Saya Lola,” jawabnya singkat sambil menyambut uluran tanganku dengan tangannya yang berkulit halus nan lembut.

Matanya menatap tajam, penuh percaya diri mengiringi senyum manis yang selalu terpancar diwajahnya.


Aku berusaha mengarahkan pandangan mataku untuk tetap mengarah ke wajahnya. Padahal dorongan hati ini sebenarnya ingin melabuhkan pandanganku ke bukit kembarnya yang kutaksir berukuran 36B. Apalagi dia sedang memakai t-shirt ketat. Yahh, sekali-sekali tetap saja kucuri pandang juga keindahan tubuh gadis yang kutaksir berumur dua puluhan ini.


“Sudah berapa lama kerja di sini?” ujarku memperpanjang perbincangan.

“Mumpung cuma kami berdua di ruangan depan apotik ini,” pikirku.

“Baru setahun.”

“Dari daerah..?”

“Iya, kok tahu..?”

“Logatnya kan kelihatan dari Jawa.” Lalu kusambung dengan cepat, “Aku juga dari Jawa.”

“Ah, nggak ada logat Jawanya.. Nggak percaya..”

“Kalo lagi ngumpul sama temen-temen dari Jawa, logatku keluar.”


Lalu, untuk meyakinkan Lola, aku pun mengajaknya bicara dengan bahasa dan logat Jawa. Dari obrolan singkat yang membuat kami menjadi lebih akrab secepat kilat ini, kuketahui dia tinggal di lantai dua dari ruko yang dijadikan apotik tersebut. Usianya ternyata baru duapuluh satu.


Malam itu juga kutelpon dia setelah apotik itu tutup.

“Halo, apotik ‘XX’..?”

“Ya betul.. tapi apotiknya sudah tutup Pak..,” kudengar suara Lola di ujung sana.

“Oh nggak apa-apa. Saya cuma mau bicara sama Jeng Lola.”

“Mmm.. dari siapa ya..?” terdengar nada keraguan.

“Wahh, baru juga kenalan kok udah lupa..” aku mencoba menggoda.

“Ohh, Mas Bandi. Ada apa Mas..? Kangen sama Lola..?” katanya menggoda balik setelah berpikir sejenak menebak suaraku.

“Wah, berani juga ini cewek,” pikirku.


“Iya nih.. abis di sini cuma berdua sama pembantu.”

“Asyik dong..!”

“Wong pembantuku udah nenek-nenek..”

“Masa sih..? Boong nihh..!”

“Beneran.. Kapan-kapan main ke sini dong..! Biar tahu kalo pembantuku memang udah STW.”


Setelah ngobrol sana-sini, akhirnya perbincangan di telpon ini kami tutup dengan janjian nonton di Studio 21 Sabtu malam.


Hari yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Keluar dari ruko tempat kerja sekaligus kost ini, Lola dengan mesra menggamit lenganku menuju mobil yang kuparkir di tepat depan apotik ‘XX’. Tanganku yang direngkuh Lola terasa menyentuh bagian tepi payudaranya yang menantang itu. Serr, gairahku terpancing walau hanya sebentar saja sentuhan daging kenyal yang menggoda itu kurasakan.


Di dalam bioskop, Lola lebih berani lagi. Ia menyandarkan kepalanya ke lenganku. Tangannya pun segera diletakkan di atas selangkanganku, ketika tanganku mulai mengelus dan meremas lengannya dengan lembut. Tidak lama kemudian tangannya mengelus dan menggosok-gosok bagian luar celanaku. Tentu saja tongkat di bawah celanaku segera mengeras.


“Hati-hati, nanti basah..,” aku berbisik kepada Lola.

“Biarin,” Lola berbisik menggoda sambil mencubit pahaku.

Ternyata Lola tidak bertindak lebih jauh. Ia hanya menikmati kerasnya kelelakianku dari sebelah luar celanaku. Aku pun tidak berani berbuat terlalu jauh, hanya meremas-remas lengannya, sambil sesekali mencium pipi dan lehernya yang jenjang di tengah kegelapan bioskop. Beruntung kami duduk di bagian paling belakang.


Pulang dari bioskop, pikiranku mulai kacau. Beragam khayalan muncul menggoda. Apalagi Lola makin merapatkan badannya, seolah kami ini pasangan yang sudah pacaran lama saja.

“Mau langsung pulang atau putar-putar dulu..?”

“Mmm.. putar-putar juga boleh.”

“Mau ke Ancol..?” aku coba memancing reaksinya.

“Ayo aja..”


Mobil pun mengarah ke Ancol. Langsung kuparkir ke tepi laut, seperti mobil-mobil yang lainnya. Jantungku mulau berdegup kencang membayangkan hal-hal yang akan terjadi kalau Lola tidak menampiknya.


Kami mendorong sandaran kursi kami ke belakang, sehingga lebih santai. Aku mencoba mengambil inisiatif. Kudekatkan wajahku ke wajah Lola, kuarahkan bibirku ke bibirnya yang merah merekah. Aku pun segera mendaratkan bibirku, melumat bibirnya yang menggoda. Lola memejamkan matanya, menikmati rangsangan dan gejolak birahi yang timbul saat bibir kami saling melumat. Nafasnya terdengar mulai memburu.


Kuusapkan tanganku ke bra-nya sambil meremas lembut. Lola segera membantuku dengan membuka bra-nya, sehingga tanganku bergerak bebas merengkuh kedua bukit kembarnya yang menantang polos di balik blus tanpa lengan yang sudah tersingkap. Kuusap-usap putingnya dengan telapak tanganku. Sesekali aku memilinnya dengan telunjuk dan ibu jariku. Selebihnya aku lebih banyak meremas lembut payudara yang selama ini mengoda mataku saat main ke apotik tempatnya bekerja.


Tidak lama kemudian kuarahkan bibirku ke puting susunya yang sudah mengeras.

“Ahh.. Emhh..” erangan Lola makin membangkitkan gairah dan semangatku.

Lola sangat menikmati setiap gejolak birahinya. Seperti inilah tipe wanita kesukaanku. Tidak terlalu agresif dan cenderung menikmati permainanku. Aku sangat menikmati ekspresi kenikmatan pasanganku. Aku kurang menyukai cewek yang berlaku aktif saat bercinta.


“Emhh.. enak mass.. Teruss.. Teruss.. Ahh..!” desahnya lagi.

Sambil kembali mencium bibirnya, aku mulai mengarahkan tanganku ke selangkangan Lola. Waktu CD-nya kusentuh, ternyata ia sudah basah. Ciuman bibirnya menjadi lebih liar.


Tiba-tiba ia menarik bibirnya sambil berkata, “Mas Bandi, dilanjutkan di rumah Mas Bandi yuk..! Lola udah nggak tahan nih..!”

“Di sini juga bisa kok,” aku mencoba meyakinkan Lola.

“Nggak ah, malu. Ntar ada yang ngintip. Berabe kan.”

“Katanya udah nggak tahan.., Mas juga udah nggak tahan nih..!”

“Jangan di sini Mas.., pokoknya lebih enak di rumah Mas Bandi deh..”

“Jangan kuatir, entar sepanjang jalan Lola usap-usap deh torpedonya.” Lola merajuk sambil mengusap lembut torpedoku yang sudah keras.

Torpedoku memang sudah tidak terhalang celana dan CD lagi. Retsluiting sudah dibuka, CD sudah disingkapkan ke bawah buah pelir.


Terpaksa kuturuti permintaan Lola. Alhasil, sepanjang jalan aku menyetir sambil menggeliat nikmat karena usapan-usapan lembut Lola di bagian-bagian sensitif torpedoku.


Sampai di rumah, pembantuku ternyata sudah tidur. Kulihat jam tanganku menunjukkan jam 1 pagi. Aku pun perlahan membuka pintu garasi, memasukkan mobil, lalu membimbing Lola ke kamar tidur utama. Gejolak birahi yang tertahan sepanjang perjalanan membuatku langsung merengkuh tubuh semampai Lola, melumat bibirnya, sambil perlahan melepas pakaiannya satu per-satu.


Dalam sekejap kami sudah telanjang dan berada di atas ranjang. Sekali lagi aku menikmati tubuh menawan Lola, melumat puting susunya, sambil mengusap-usap belantara dan gua yang sudah basah. Terdengar bunyi berdecak ketika tanganku memainkan gua di selangkangannya sambil melumat payudaranya yang sintal.

“Emhh.. enak Mass..! Teruss.. Teruss.. Ahh..!”

Ia betul-betul gadis yang menikmati setiap denyut kenikmatan birahinya. Erangan dan ekspresi yang ditunjukkannya benar-benar nikmat didengar dan dipandang.


Terasa penisku semakin mengeras. Kulihat Lola meregangkan kedua kakinya, mengundang penisku untuk masuk.

“Ahh.. Emhh..” kembali Lola mengerang nikmat, “Masukkan Mas.., udah nggak tahan nih..! Akkhh..!” bisiknya bercampur erangan nikmat.

Aku pun segera memasukkan penisku ke dalam gua yang sudah basah. Karena sudah licin dengan cairan kenikmatan Lola, dengan mudah penisku yang sebenarnya termasuk besar itu dapat masuk sampai ke bagian terdalam vaginanya.


Terasa denyutan dinding vaginanya pada batang penisku. Ahh, nikmat sekali. Aku mulai bergerak naik turun perlahan, sambil menikmati erangan khas Lola. Gerakanku makin lama makin liar, seiring makin liarnya erangan dan gerakan pinggul Lola.

“Ahh, aku udah mau keluar..” bisikku kepada Lola.

“Tahan dulu Mas.. sebentar lagi..!” rengek Lola.

Aku pun mengatur nafas sambil melepas erangan untuk menahan ejakulasi. Aku menawarkan Lola untuk pindah ke posisi atas, supaya ia dapat mengatur gerakan yang sesuai dengan ritme orgasmenya.


Kami pun berguling, penisku tetap berada di dalam vaginanya saat kami berguling ganti posisi. Lola kini di sebelah atas. Ia bergerak naik turun.. naik turun.. Lama-lama berubah berputar-putar dan sesekali naik turun.. Erangan Lola berbaur dengan eranganku menahan ejakulasi.


“Ahh, enakk.. akk.. ku.. udah.. mmh.. mau keluar..!” Lola mengerang nikmat.

Aku pun mulai bergerak mengatur ritme agar dapat ejakulasi bersamaan klimaks yang dicapai Lola.

“Ahh, akk.. ku.. juga.. Mmmhh..!”

Terasa tubuh kami mengejang bersama-sama.


“Thanks.., Lola. Kamu luar biasa..” aku berbisik ke telinga Lola.

“Mas Bandi juga luar biasa..” bisik Lola.

Malam itu Lola menginap di rumahku. Kami tidur tanpa busana setelah mandi bersama.


TAMAT

Read full post »

Foto Aida Saskia Mandi Hanya Pakai BH

0 comments
Ini dia foto panas awal tahun yang gak mungkin terlewatkan. Foto Aida Saskia yang lagi mandi lepas baju hingga terlihat hanya mengenakan BH aja. Aida Zaskia terlihat lebih seksi lantaran tubuhnya yang lagi basah sehingga terlihat jelas lekuk tubuh dari gadis seksi tersebut. Ada beberapa potongan gambar dari Aida Saskia mandi yang hanya mengenakan pakaian dalam alias bra tersebut. Ada yang dimabil dari samping, belakang bahkan dari depan sehingga tergambar dengan jelas bentuk payudara dari artis Indonesia pendatang baru ini

Dari sumber yang ada ini adalah potongan adegan film yang akan dibintangi oleh artis yang baru saja bermasalah dengan kiai besar di Indonesia tersebut. Entah sengaja atau tidak namun Aida Saskia memang telah membenarkan bahwa gadis yang hanya mengenakan bra dan sedang terlihat mandi tersebut adalah dirinya. Lalu apa jadinya film tersebut ? Apakah ada adegan yang lebih panas dari cuplikan foto seksi tersebut ? Kita tunggu saja berita selanjutnya
Read full post »

Tato Chantal de la Concetta

0 comments
Gambar tato Chantal de la Concetta yang terlihat di bagian tubuhnya ini memang sangat menarik. Dan kita pasti terkejut kalo gadis cantik yang sering kita lihat di sinetron, reality show atau bahkan menjadi model beberapa produk iklan tersebut teryata menyimpan tato rahasia didalam tubuhnya. Dengan tato tersebut Chantal de la Concetta terlihat semakin seksi dan menggoda
Read full post »

Video Cewek Narsis

0 comments
Mau tau gimana kalo cewek narsis ? Gadis cantik yang masih SMU ini lagi narsis di depan kamera karena emang tau kalo dirinya cantik. Mereka dengan gaya narsis memamerkan gaya yang menggoda namun tetap identik sebagai cewek SMU. Tidak berlebihan namun ada juga yang kelewat batas. Kalau mau selengkapnya mengenai video cewek narsis, kita lihat bersama saja karena ada beberapa video baru yang baru saja di upload dan dikirim
Read full post »

Foto Bikini Aurel

0 comments
Aurel kedapatan sedang mengenakan bikini seksi dan bermain air dipantai Kuta. Ya, Aurel anak dari Anang dan Krisdayanti yang kini menapaki karir sebagai penyanyi tersebut nampak di foto bersama dengan Angel Elga, mantan istri Rhoma Irama sedang menikmati liburan di pulau Dewata. Kenapa bukan dengan Syahrini ? Ah entahlah. Namun ada yang mengejutkan disana karena yang mengenakan bikini bukan hanya Angel Elga saja namun Aurel juga mengenakan bikini two pieces yang pastinya memperlihatkan tubuh gadis remaja yang mulai nampak seksi tersebut. Dan kontan saja foto bikini Aurel langsung menyebar di dunia maya atau lewat hp ke hp

Memang sebenarnya tidak ada yang salah dengan foto tersebut namun karena Aurel telah banyak dikenal oleh publik berkat penampilannya bersama dengan sang ayah, jadi setiap gerak geriknya menjadi sorotan media. Dengan mengenakan bikini warna hitam yang seksi, foto tersebut menampilkan juga keceriaan Aurel ketika bermain bersama dengan Angel Elga. Lalu apakah akan ada foto seksi Aurel yang lain setelah ini ? Kita tunggu saja bersama
Read full post »

5 Artis Panas Indonesia Paling Laris Tahun Ini

0 comments
Sepanjang tahun ini ada beberapa artis panas Indonesia yang membintangi film horor dengan beberapa adegan panas didalamnya. Artis tersebut berhasil meraih kepopuleran bersama dengan film yang mereka bintangi. Namun dari sederet bintang yang ada masih belum ada artis yang masih abg yang mampu menandingi keberanian artis panas tersebut dalam beradegan. Untuk itu berikut foto 5 artis panas Indonesia paling laris tahun ini dengan beberapa gambaran mengenai bintang tersebut
Cynthiara Alona
Shinta Bachir
Debby Ayu
Julia Perez
Dewi Persik
Read full post »

Baby Niken Foto

0 comments
Nama Baby Niken memang belum banyak dikenal namun sebentar lagi gadis seksi ini diprediksi akan berkibar di dunia hiburan khususnya sebagai penyanyi. Hal ini diperkuat dengan keterlibatan Ahmad Dhani sebagai bos RCM. Ya, Baby Niken telah masuk dalam jajaran artis seperti Dewi Persik, Alexa Key dll yang dinaungi oleh perusahaan milik pentolan grup Dewa tersebut, karena itu jangan heran jika ada antusiasme dalam diri gadis berusia 20 tahun ini tentang apa yang bisa ditampilkannya kelak. Dan dalam waktu singkat, foto Baby Niken yang wajahnya mirip Mulan Jameela ini telah banyak hadir di dunia maya dengan beberapa aksi yang ia tampilkan saat manggung.

Walaupun wajahnya mirip dengan Mulan namun cewek yang memiliki nama lengkap Desy Niken Ria tidak ingin diidentikkan dengan penyanyi seksi tersebut. Namun jika ada masyarakat yang menganggapnya sebagai The New Mulan, maka hal itu menjadi kehormatan tersendiri bagi cewek cantik tersebut. Dengan pengalamannya sejak usia 17 tahun sebagai model di sebuah majalah, maka Baby Niken mencoba peruntungannya di dunia tarik suara yang juga disukainya. Dan dengan sebuah single lagu yang berjudul Kamu Bisa, Aku Tak Bisa, ia ingin mennawarkan sesuatu yang baru di dunia industri musik tanah air. Karena itulah bersiaplah untuk menantikan kehadiran foto foto seksi Baby Niken di beberapa media internet maupun televisi

Dan untuk anda yang sudah penasaran dengan penampilan Baby Niken, beriut beberapa foto Baby yang bisa kita lihat bersama. Kita harapkan saja agar Model majalah Aneka Yess 2005 itu mampu memberikan yang terbaik bagi penggemarnya di seluruh Indonesia
Read full post »

Ngentot Spg Cantik

0 comments

Ngentot Spg Cantik, Pulang kantor jalanan masih agak macet. Kantorku berada di daerah Harmoni. Pada jam-jam sibuk tentu saja macet total. Langit agak mendung, tapi dugaanku sore sampai malam ini tidak akan turun hujan. Dengan langkah sedang aku keluar kantor dan berjalan ke arah Juanda, rencana naik bis dari sana saja. Maklum karyawan baru, jadi masih naik Mercy dengan kapasitas besar.


Sampai di Juanda aku cari bis kota tujuan ke Senen. Sebentar kemudian datang bis kota yang sudah miring ke kiri. Aku naik dan menyelinap ke dalam. Aroma di dalam bis sungguh rruarr biasa. Segala macam aroma ada di sana. Mulai dari parfum campur keringat sampai bau asap dan lain-lainnya.


Tak lama aku sampai di Senen. Turun di Pasar Senen dan masuk ke dalamnya. Ada beberapa barang yang harus kucari. Putar sana putar sini nggak ketemu juga yang kucari. Malahan digodain sama kapster-kapster di salon lantai 2. Dengan kata-kata yang menjurus mereka merayuku untuk masuk ke salonnya. Kubalas saja godaan mereka, toh aku juga lagi nggak ada keperluan ke salon. Sekedar membalas dan menyenangkan mereka yang merayu untuk sekedar gunting, facial atau creambath.


Akhirnya kuputuskan untuk cari di Atrium saja. Aku nyeberang di dekat jembatan layang. Memang budaya tertib sangat kurang di negara ini. Senangnya potong kompas dengan mengambil resiko.


Baru saja kakiku melangkah masuk ke dalam Atrium, mataku tertuju pada seorang wanita setengah baya, kutaksir umurnya tiga puluh lima tahun. Ia mengenakan blazer hijau dengan blouse hitam. Pandangannya kesana kemari dan gelisah seolah-olah menunggu seseorang. Aku lewat saja di depannya tanpa ada suatu kesan khusus. Sampai di depannya dia menyapaku.


“Maaf Mas mengganggu sebentar. Jam berapa sekarang?” tanyanya halus. Dari logatnya kutebak dia orang Jawa Tengah, sekitar Solo.

“Aduh, sorry juga Mbak, saya juga tidak pakai jam,” sambil kulihatkan pergelangan tanganku.”Mbak mau kemana, kok kelihatannya gelisah?” tanyaku lagi.

“Lagi tunggu teman, janjian jam setengah lima kok sampai sekarang belum muncul juga” jawabnya.

“Ooo..” komentarku sekedar menunjukkan sedikit perhatian.

“Mas mau kemana, baru pulang kantor nih?” dia balik bertanya.

“Iya, mau beli sesuatu, tadi cari di Proyek nggak ada, kali-kali aja ada di Atrium”.


Akhirnya meluncurlah dari mulut kami beberapa pertanyaan basa-basi standar.


“Oh ya dari tadi kita bicara tapi belum tahu namanya, saya Vera,” katanya sambil mengulurkan tangan.

“Anto,” sahutku pendek, “OK Vera, saya mau jalan dulu cari barang yang saya perlukan”.

“Silakan, saya masih tunggu teman di sini, barangkali dia terjebak macet atau ada halangan lainnya”.


Kami berpisah, saya masuk ke dalam dan langsung ke Gunung Agung. Kulihat Vera masih menunggu di pintu Atrium. Setengah jam keliling Gunung Agung ternyata tidak ada barang yang kucari. Kuputuskan pulang saja, besok coba cari di Gramedia atau Maruzen. Aku keluar dari pintu yang sama waktu masuk, arah ke Proyek. Kulihat Vera masih juga berdiri di sana. Kuhampiri dia dan kutanya.


“Masih ada disini, belum pulang?”.

“Ini mau pulang, besok aja kutelpon dia ke kantor,” jawabnya.


Waktu itu, 1994, HP masih menjadi barang mewah yang tidak setiap orang dapat memilikinya.


“Mbak naik apa?”

“Oh, saya bawa mobil sendiri, meskipun butut”.

“OK, kalau begitu saya pulang, saya naik Mercy besar ke Kampung Melayu”.


Dia kelihatan agak berpikir. Baru pada saat ini aku mengamati dia dengan lebih teliti. Tingginya kutaksir 158 cm, kulitnya kuning kecoklatan, khas wanita Jawa dengan perawakan seimbang. Rambutnya berombak sebahu, matanya agak lebar dan dadanya standar, 34.


“Kenapa, something wrong?” kataku.

“Nggak, nggak aku juga mau jalan lagi suntuk. Rumah saya di Cinere, jam segini juga lagi full macet” sambil memandangku dengan tatapan yang sulit kutafsirkan.

“Boleh saya temani,” sahutku asal saja. Jujur aku hanya asal berkata saja tanpa mengharap apapun. Dia menatapku sejenak dan akhirnya..

“Boleh saja, kalau nggak mengganggu” jawabnya.


Kami menuju basement tempat parkir mobilnya. Dia memberikan kunci mobilnya padaku.


“Bisa bawa mobil kan?” tanyanya.


Aku terkejut, karena aku memang bisa nyetir mobil tapi masih belum lancar sekali dan tidak punyai SIM.


“Aduh, so.. Sorry, jangan aku yang bawa. Aku nggak punya SIM,” kataku mengelak.

“Baiklah kalau begitu, biar aku sendiri yang bawa,” katanya sambil tersenyum.


Vera naik mobil dan membukakan pintu sebelah kiri depan dari dalam. Mobilnya Suzuki Carry warna merah maron. Kulihat di atas jok tengah berserakan map dan kertas.


“Kemana kita?” katanya.

“Terserah ibu sopir saja, asal jangan ke Bogor, jauh” sahutku bercanda.

“Kita ke Monas saja deh” katanya sambil terus tetap menyetir.


Karena dia mengenakan rok span selutut, jadinya waktu duduk menyetir agak ketarik ke atas, pahanya terlihat sedikit. Aku menelan ludah.


Monas terlihat sepi sore ini, jam di dashboard menunjukkan 17.55. Hanya ada beberapa mobil yang parkir di pelataran parkir. Vera memarkir mobilnya agak jauh dari mobil lainnya. Ia mematikan kontak dan membuka jendela. Kami tetap duduk di dalam mobil.


“Uffh, hari yang melelahkan”. Vera menyandarkan tubuh dan kepalanya pada jok mobil. Blazernya tidak dikancingkan sehingga dadanya kelihatan menonjol.


“Ngomong-ngomong Mas Anto ini kerja di mana?”

“Karyawan swasta, kantornya di Harmoni, Mbak Vera sendiri di mana?” balasku.

“Saya agen sebuah Asuransi BUMN, rencananya tadi dengan teman saya, Dewi, akan prospek di sebuah kantor di Kramat, makanya janjian di Atrium. Eh, dianya nggak datang. Eh, bagaimana kalau kita masing-masing panggil dengan nama saja tanpa sebutan basa-basi supaya lebih akrab. Toh umur kita nggak jauh berbeda. Aku tiga puluh lima, kutaksir kamu paling-paling tiga puluh”.


Ternyata taksiranku tepat, taksirannya meleset. Waktu itu umurku sendiri baru dua puluh lima. Mungkin karena warna kulitku agak gelap dan berkumis maka wajahku kelihatan lebih tua. Tapi menurut teman-temanku baik perempuan ataupun laki-laki, dengan wajah cukup ganteng, tinggi 170 cm, perawakan tegap, berkumis dan dada berbulu aku termasuk idaman wanita.


Vera ternyata seorang janda dengan satu anak. Ketika kutanya kenapa dia bercerai, air mukanya berubah dan ia menghela napas panjang.


“Sudahlah, itu kenangan buruk dari masa laluku, tak usah dibicarakan lagi” katanya.

“Baiklah, maaf kalau sudah menyinggung perasaanmu,” kataku.


Senja semakin merambat, lampu jalan sudah mulai dinyalakan mengalahkan temaram senja. Di bawah lampu merkuri wajah Vera terlihat pucat. Tiba-tiba saja kami bertatapan. Vera terlihat sangat lelah, tapi bibirnya dipaksakan tersenyum. Entah bagaimana mulanya tiba-tiba saja tangan kananku sudah kulingkarkan di lehernya dan kurengkuh ia ke dalam pelukanku. Kucium bibir tipisnya dan ia membalasnya dengan melumat bibirku lembut. Kami saling memandang dan tersenyum.


“Anto, maukah kamu menemaniku ngobrol?”

“Lho, bukankah sekarang ini kita lagi ngobrol”.

“Maksudku, kita cari.. Nggh.. Tempat yang tenang”.


Kucium bibirnya lagi dan ia membalas lebih panas dari ciuman yang pertama tadi. Tanpa kujawab mestinya ia sudah tahu.


“Ayo kita berangkat,” ajaknya sambil menghidupkan mesin mobil.

“Baiklah kita ke arah Tanah Abang saja yuk,” jawabku.


Dari Monas kami menuju ke Tanah Abang. Kami sempat terjebak kemacetan di sekitar Stasiun Tanah Abang. Akhirnya kuarahkan dia ke Petamburan. Kulihat dia ragu-ragu untuk masuk ke halaman sebuah hotel.


“Ayolah masuk saja, nggak apa-apa kok. Hotelnya cukup bersih dan murah” kataku meyakinkannya.

“Bukan apa-apa. Aku hanya tidak ingin mobilku terlihat secara mencolok di halaman hotel” sahutnya. Akhirnya kami mendapatkan tempat parkir yang cukup terlindung dari jalan umum.


Setelah membereskan urusan di front office, kami masuk ke dalam kamar. Kuamati sejenak keadaan di dalam kamar. Di dinding sejajar dengan arah ranjang dipasang cermin selebar 80 cm memanjang sepanjang dinding. Aku tersenyum dan membatin rupanya hotel ini memang dipersiapkan khusus untuk pasangan yang mau kencan.


“Kamu sering masuk ke sini, To? Kelihatannya sudah familiar sekali” tanyanya.

“Nggak juga. Namanya nginap di hotel kan tahapannya standar aja. Lapor ke front office, serahkan ID, bayar bill untuk semalam lalu ambil kunci kamar. Beres kan?”

“Kalau lagi prospek, bagaimana pengalamanmu. Sering dijahili klien nggak” tanyaku memancing.

“Yahh, ada juga yang iseng. Tapi kalau orangnya oke, boleh juga sih. Sudah dapat komisi plus tip plus enak gila”.


Ternyata beginilah salah satu sisi dunia asuransi. Saya nggak menghakimi, tetapi semua itu kembali tergantung pada orangnya.


“Aduh, kalau begitu saya nggak bisa kasih tip. Kita pulang saja yuk” kataku pura-pura serius.

“Huussh.. Kamu kok nganggap saya begitu sih”.


Kami berbaring berjejer di ranjang yang empuk. Vera tengkurap di sebelahku dan menatapku sejenak, lalu ia mendekatkan mukanya ke mukaku dan mencium bibirku. Aku membalas dengan perlahan. Vera terus menciumiku sambil melepas blazernya. Kaki kirinya membelit kakiku. Tangannya merayap di atas kemejaku dan mulai melepas kancing serta menariknya sehingga dadaku terbuka. Vera semakin terangsang melihat dadaku yang berbulu. Ia membelai-belai dadaku dan sekali-sekali menarik perlahan bulu dadaku.


“Simbarmu iku lho To, bikin aku.. Serr” bisiknya. Simbar adalah sebutan bulu dada dalam bahasa Jawa.

“Mandi dulu yuk” kataku.

“Nggak usah, nanti aja. Bau tubuhmu lebih merangsang daripada bau sabun bahkan parfum” katanya.


Bibirnya bergeser ke bawah dan kini ia menciumi leherku. Aku menggelinjang kegelian sekaligus nikmat. Napas kami mulai berat dan memburu. Sambil terus menciumi dadaku, Vera melepaskan blousenya. Kulihat buah dadanya yang masih kenyal dan padat terbungkus bra warna merah jambu. Seksi sekali. Tangannya bergerak ke bawah, membuka kepala ikat pinggangku, melepas kancing celana dan menarik ritsluitingku dan langsung menariknya ke bawah. Aku sedikit mengangkat pantatku membantu gerakan tangannya membuka celanaku. Kini tangannya bergerak ke belakangnya, tidak lama kemudian roknya sudah merosot dan hanya dengan gerakan kakinya rok tersebut sudah terlepas dan terlempar ke lantai.


Tangan kananku bergerak ke punggungnya dan terdengar suara “tikk” kancing pengait branya sudah terlepas. Aku melepas branya dengan sangat perlahan sambil mengusap-usap bahu dan lengannya. Vera mengangkat tangannya dari tubuhku dan akhirnya terlepaslah bra merah jambu yang dipakainya. Buah dadanya berukuran sedang, taksiranku 34 saja, terlihat kenyal dan padat. Urat-uratnya yang membiru di bawah kulit terlihat sangat menarik seperti alur sungai di pegunungan. Putingnya yang merah kecoklatan menantangku untuk segera mengulumnya. Payudara sebelah kanan kuisap dan kukulum, sementara sebelah kirinya kuremas dengan tangan kananku, demikian berganti-ganti. Tangan kiriku mengusap-usap punggungnya dengan lembut.


Vera mengerang dan merintih ketika putingnya kugigit kecil dan kujilat-jilat.


“Ououououhh.. Nghgghh, Anto teruskan.. Ouuhh.. Anto”


Payudaranya kukulum habis sampai ke pangkalnya. Vera menghentakkan kepalanya dan menjilati telingaku. Akupun sudah merangsang hebat. Senjataku sudah mengeras dan kepalanya sudah nongol di balik celana dalamku. Vera melepaskan diri dari pelukanku dan kini ia yang aktif menjilati dan menciumi tubuhku bagian atas. Dari leher bibirnya menyusuri dadaku, menjilati bulu dadaku dan..


“Oukhh, Vera.. Yachh.” aku mengerang ketika mulutnya menjilati puting kiriku. Kini bibirnya pindah ke puting kananku. Aku mendorong tubuhnya, tak tahan dengan rangsangan pada puting kananku.


Vera semakin ke bawah, ke perut dan terus ke bawah. Digigitnya meriamku yang masih terbungkus celana dalam. Tangannya juga bergerak ke bawah, menarik celanaku sampai ke lutut dan akhirnya menariknya ke bawah dengan kakinya. Aku tinggal memakai kemeja saja yang kancingnya juga terbuka semua.

Read full post »

Perawanku Direnggut Guru Privatku

0 comments

Perawanku Direnggut Guru Privatku, Sebut saja namaku Etty (bukan yang sebenarnya), waktu itu aku masih sekolah di sebuah SMA swasta. Penampilanku bisa dibilang lumayan, kulit yang putih kekuningan, bentuk tubuh yang langsing tetapi padat berisi, kaki yang langsing dari paha sampai tungkai, bibir yang cukup sensual, rambut hitam lebat terurai dan wajah yang oval. Payudara dan pantatkupun mempunyai bentuk yang bisa dibilang lumayan.

Dalam bergaul aku cukup ramah sehingga tidak mengherankan bila di sekolah aku mempunyai banyak teman baik anak-anak kelas II sendiri atau kelas I, aku sendiri waktu itu masih kelas II. Laki-laki dan perempuan semua senang bergaul denganku. Di kelaspun aku termasuk salah satu murid yang mempunyai kepandaian cukup baik, ranking 6 dari 10 murid terbaik saat kenaikan dari kelas I ke kelas II.


Karena kepandaianku bergaul dan pandai berteman tidak jarang pula para guru senang padaku dalam arti kata bisa diajak berdiskusi soal pelajaran dan pengetahuan umum yang lain. Salah satu guru yang aku sukai adalah bapak guru bahasa Inggris, orangnya ganteng dengan bekas cukuran brewok yang aduhai di sekeliling wajahnya, cukup tinggi (agak lebih tinggi sedikit dari pada aku) dan ramping tetapi cukup kekar. Dia memang masih bujangan dan yang aku dengar-dengar usianya baru 27 tahun, termasuk masih bujangan yang sangat ting-ting untuk ukuran zaman sekarang.

Suatu hari setelah selesai pelajaran olah raga (volley ball merupakan favoritku) aku duduk-duduk istirahat di kantin bersama teman-temanku yang lain, termasuk cowok-cowoknya, sembari minum es sirup dan makan makanan kecil. Kita yang cewek-cewek masih menggunakan pakaian olah raga yaitu baju kaos dan celana pendek. Memang di situ cewek-ceweknya terlihat seksi karena kelihatan pahanya termasuk pahaku yang cukup indah dan putih.

Tiba-tiba muncul bapak guru bahasa Inggris tersebut, sebut saja namanya Freddy (bukan sebenarnya) dan kita semua bilang, “Selamat pagi Paa..aak”, dan dia membalas sembari tersenyum.

“Ya, pagi semua. Wah, kalian capek ya, habis main volley”.

Aku menjawab, “Iya nih Pak, lagi kepanasan. Selesai ngajar, ya Pak”. “Iya, nanti jam setengah dua belas saya ngajar lagi, sekarang mau ngaso dulu”.

Aku dan teman-teman mengajak, “Di sini aja Pak, kita ngobrol-ngobrol”, dia setuju.

“OK, boleh-boleh aja kalau kalian tidak keberatan”!

Aku dan teman-teman bilang, “Tidak, Pak.”, lalu aku menimpali lagi, “Sekali-sekali, donk, Pak kita dijajanin”, lalu teman-teman yang lain, “Naa..aa, betuu..uul. Setujuu..”.

Ketika Pak Freddy mengambil posisi untuk duduk langsung aku mendekat karena memang aku senang akan kegantengannya dan kontan teman-teman ngatain aku.

“Alaa.., Etty, langsung deh, deket-deket, jangan mau Pak”.

Pak Freddy menjawab, “Ah! Ya, ndak apa-apa”.

Kemudian sengaja aku menggoda sedikit pandangannya dengan menaikkan salah satu kakiku seolah akan membetulkan sepatu olah ragaku dan karena masih menggunakan celana pendek, jelas terlihat keindahan pahaku. Tampak Pak Freddy tersenyum dan aku berpura-pura minta maaf.

“Sorry, ya Pak”.

Dia menjawab, “That’s OK”. Di dalam hati aku tertawa karena sudah bisa mempengaruhi pandangan Pak Freddy.

Di suatu hari Minggu aku berniat pergi ke rumah Pak Freddy dan pamit kepada Mama dan Papa untuk main ke rumah teman dan pulang agak sore dengan alasan mau mengerjakan PR bersama-sama. Secara kebetulan pula Mama dan papaku mengizinkan begitu saja. Hari ini memang Hari yang paling bersejarah dalam hidupku. Ketika tiba di rumah Pak Freddy, dia baru selesai mandi dan kaget melihat kedatanganku.

“Eeeh, kamu Et. Tumben, ada apa, kok datang sendirian?”.

Aku menjawab, “Ah, nggak iseng aja. Sekedar mau tahu aja rumah bapak”.

Lalu dia mengajak masuk ke dalam, “Ooo, begitu. Ayolah masuk. Maaf rumah saya kecil begini. Tunggu, ya, saya pak√É© baju dulu”. Memang tampak Pak Freddy hanya mengenakan handuk saja. Tak lama kemudian dia keluar dan bertanya sekali lagi tentang keperluanku. Aku sekedar menjelaskan, “Cuma mau tanya pelajaran, Pak. Kok sepi banget Pak, rumahnya”.

Dia tersenyum, “Saya kost di sini. Sendirian.”

Selanjutnya kita berdua diskusi soal bahasa Inggris sampai tiba waktu makan siang dan Pak Freddy tanya, “Udah laper, Et?”.

Aku jawab, “Lumayan, Pak”.

Lalu dia berdiri dari duduknya, “Kamu tunggu sebentar ya, di rumah. Saya mau ke warung di ujung jalan situ. Mau beli nasi goreng. Kamu mau kan?”.

Langsung kujawab, “Ok-ok aja, Pak.”.

Sewaktu Pak Freddy pergi, aku di rumahnya sendirian dan aku jalan-jalan sampai ke ruang makan dan dapurnya. Karena bujangan, dapurnya hanya terisi seadanya saja. Tetapi tanpa disengaja aku melihat kamar Pak Freddy pintunya terbuka dan aku masuk saja ke dalam. Kulihat koleksi bacaan berbahasa Inggris di rak dan meja tulisnya, dari mulai majalah sampai buku, hampir semuanya dari luar negeri dan ternyata ada majalah porno dari luar negeri dan langsung kubuka-buka. Aduh! Gambar-gambarnya bukan main. Cowok dan cewek yang sedang bersetubuh dengan berbagai posisi dan entah kenapa yang paling menarik bagiku adalah gambar di mana cowok dengan asyiknya menjilati vagina cewek dan cewek sedang mengisap penis cowok yang besar, panjang dan kekar.

Tidak disangka-sangka suara Pak Freddy tiba-tiba terdengar di belakangku, “Lho!! Ngapain di situ, Et. Ayo kita makan, nanti keburu dingin nasinya”.

Astaga! Betapa kagetnya aku sembari menoleh ke arahnya tetapi tampak wajahnya biasa-biasa saja. Majalah segera kulemparkan ke atas tempat tidurnya dan aku segera keluar dengan berkata tergagap-gagap, “Ti..ti..tidak, eh, eng..ggak ngapa-ngapain, kok, Pak. Maa..aa..aaf, ya, Pak”.

Pak Freddy hanya tersenyum saja, “Ya. Udah tidak apa-apa. Kamar saya berantakan. tidak baik untuk dilihat-lihat. Kita makan aja, yuk”.

Syukurlah Pak Freddy tidak marah dan membentak, hatiku serasa tenang kembali tetapi rasa malu belum bisa hilang dengan segera.

Pada saat makan aku bertanya, “Koleksi bacaannya banyak banget Pak. Emang sempat dibaca semua, ya Pak?”.

Dia menjawab sambil memasukan sesendok penuh nasi goreng ke mulutnya, “Yaa..aah, belum semua. Lumayan buat iseng-iseng”.

Lalu aku memancing, “Kok, tadi ada yang begituan”.

Dia bertanya lagi, “Yang begituan yang mana”.

Aku bertanya dengan agak malu dan tersenyum, “Emm.., Ya, yang begituan, tuh. Emm.., Majalah jorok”.

Kemudian dia tertawa, “Oh, yang itu, toh. Itu dulu oleh-oleh dari teman saya waktu dia ke Eropa”.

Selesai makan kita ke ruang depan lagi dan kebetulan sekali Pak Freddy menawarkan aku untuk melihat-lihat koleksi bacaannya.

Lalu dia menawarkan diri, “Kalau kamu serius, kita ke kamar, yuk”.

Akupun langsung beranjak ke sana. Aku segera ke kamarnya dan kuambil lagi majalah porno yang tergeletak di atas tempat tidurnya.

Begitu tiba di dalam kamar, Pak Freddy bertanya lagi, “Betul kamu tidak malu?”, aku hanya menggelengkan kepala saja. Mulai saat itu juga Pak Freddy dengan santai membuka celana jeans-nya dan terlihat olehku sesuatu yang besar di dalamnya, kemudian dia menindihkan dadanya dan terus semakin kuat sehingga menyentuh vaginaku. Aku ingin merintih tetapi kutahan.

Pak Freddy bertanya lagi, “Sakit, Et”. Aku hanya menggeleng, entah kenapa sejak itu aku mulai pasrah dan mulutkupun terkunci sama sekali. Semakin lama jilatan Pak Freddy semakin berani dan menggila. Rupanya dia sudah betul-betul terbius nafsu dan tidak ingat lagi akan kehormatannya sebagai Seorang Guru. Aku hanya bisa mendesah”, aa.., aahh, Hemm.., uu.., uuh”.

Akhirnya aku lemas dan kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Pak Freddy pun naik dan bertanya.

“Enak, Et?”

“Lumayan, Pak”.

Tanpa bertanya lagi langsung Pak Freddy mencium mulutku dengan ganasnya, begitupun aku melayaninya dengan nafsu sembari salah satu tanganku mengelus-elus penis yang perkasa itu. Terasa keras sekali dan rupanya sudah berdiri sempurna. Mulutnya mulai mengulum kedua puting payudaraku. Praktis kami berdua sudah tidak berbicara lagi, semuanya sudah mutlak terbius nafsu birahi yang buta. Pak Freddy berhenti merangsangku dan mengambil majalah porno yang masih tergeletak di atas tempat tidur dan bertanya kepadaku sembari salah satu tangannya menunjuk gambar cowok memasukkan penisnya ke dalam vagina seorang cewek yang tampak pasrah di bawahnya.

“Boleh saya seperti ini, Et?”.

Aku tidak menjawab dan hanya mengedipkan kedua mataku perlahan. Mungkin Pak Freddy menganggap aku setuju dan langsung dia mengangkangkan kedua kakiku lebar-lebar dan duduk di hadapan vaginaku. Tangan kirinya berusaha membuka belahan vaginaku yang rapat, sedangkan tangan kanannya menggenggam penisnya dan mengarahkan ke vaginaku.

Kelihatan Pak Freddy agak susah untuk memasukan penisnya ke dalam vaginaku yang masih rapat, dan aku merasa agak kesakitan karena mungkin otot-otot sekitar vaginaku masih kaku. Pak Freddy memperingatkan, “Tahan sakitnya, ya, Et”. Aku tidak menjawab karena menahan terus rasa sakit dan, “Akhh.., bukan main perihnya ketika batang penis Pak Freddy sudah mulai masuk, aku hanya meringis tetapi Pak Freddy tampaknya sudah tak peduli lagi, ditekannya terus penisnya sampai masuk semua dan langsung dia menidurkan tubuhnya di atas tubuhku. Kedua payudaraku agak tertekan tetapi terasa nikmat dan cukup untuk mengimbangi rasa perih di vaginaku.

Semakin lama rasa perih berubah ke rasa nikmat sejalan dengan gerakan penis Pak Freddy mengocok vaginaku. Aku terengah-engah, “Hah, hah, hah,..”. Pelukan kedua tangan Pak Freddy semakin erat ke tubuhku dan spontan pula kedua tanganku memeluk dirinya dan mengelus-elus punggungnya. Semakin lama gerakan penis Pak Freddy semakin memberi rasa nikmat dan terasa di dalam vaginaku menggeliat-geliat dan berputar-putar.

Sekarang rintihanku adalah rintihan kenikmatan. Pak Freddy kemudian agak mengangkatkan badannya dan tanganku ditelentangkan oleh kedua tangannya dan telapaknya mendekap kedua telapak tanganku dan menekan dengan keras ke atas kasur dan ouwww.., Pak Freddy semakin memperkuat dan mempercepat kocokan penisnya dan di wajahnya kulihat raut yang gemas. Semakin kuat dan terus semakin kuat sehingga tubuhku bergerinjal dan kepalaku menggeleng ke sana ke mari dan akhirnya Pak Freddy agak merintih bersamaan dengan rasa cairan hangat di dalam vaginaku. Rupanya air maninya sudah keluar dan segera dia mengeluarkan penisnya dan merebahkan tubuhnya di sebelahku dan tampak dia masih terengah-engah.

Setelah semuanya tenang dia bertanya padaku, “Gimana, Et? Kamu tidak apa-apa? Maaf, ya”.

Sembari tersenyum aku menjawab dengan lirih, “tidak apa-apa. Agak sakit Pak. Saya baru pertama ini”.

Dia berkata lagi, “Sama, saya juga”.

Kemudian aku agak tersenyum dan tertidur karena memang aku lelah, tetapi aku tidak tahu apakah Pak Freddy juga tertidur.

Sekitar pukul 17:00 aku dibangunkan oleh Pak Freddy dan rupanya sewaktu aku tidur dia menutupi sekujur tubuhku dengan selimut. Tampak olehku Pak Freddy hanya menggunakan handuk dan berkata, “Kita mandi, yuk. Kamu harus pulang kan?”.

Badanku masih agak lemas ketika bangun dan dengan tetap dalam keadaan telanjang bulat aku masuk ke kamar mandi. Kemudian Pak Freddy masuk membawakan handuk khusus untukku. Di situlah kami berdua saling bergantian membersihkan tubuh dan akupun tak canggung lagi ketika Pak Freddy menyabuni vaginaku yang memang di sekitarnya ada sedikit bercak-bercak darah yang mungkin luka dari selaput daraku yang robek. Begitu juga aku, tidak merasa jijik lagi memegang-megang dan membersihkan penisnya yang perkasa itu.

Setelah semua selesai, Pak Freddy membuatkan aku teh manis panas secangkir. Terasa nikmat sekali dan terasa tubuhku menjadi segar kembali. Sekitar jam 17:45 aku pamit untuk pulang dan Pak Freddy memberi ciuman yang cukup mesra di bibirku. Ketika aku mengemudikan mobilku, terbayang bagaimana keadaan Papa dan Mama dan nama baik sekolah bila kejadian yang menurutku paling bersejarah tadi ketahuan. Tetapi aku cuek saja, kuanggap ini sebagai pengalaman saja.

Semenjak itulah, bila ada waktu luang aku bertandang ke rumah Pak Freddy untuk menikmati keperkasaannya dan aku bersyukur pula bahwa rahasia tersebut tak pernah sampai bocor. Sampai sekarangpun aku masih tetap menikmati genjotan Pak Freddy walaupun aku sudah menjadi mahasiswa, dan seolah-olah kami berdua sudah pacaran. Pernah Pak Freddy menawarkan padaku untuk mengawiniku bila aku sudah selesai kuliah nanti, tetapi aku belum pernah menjawab. Yang penting bagiku sekarang adalah menikmati dulu keganasan dan keperkasaan penis guru bahasa Inggrisku itu.

Read full post »
 

Copyright © Zone 18 Plus Design by Free CSS Templates | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger